Sunday, April 14, 2013

Cerita Rakyat NTT - Bete Dou No Mane Loro

Posted by ARI ISNADI at 7:01 PM
Bete Dou adalah seorang putri raja yang cantik jelita dari Kerajaan Wefulan, di daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ia sangat disayangi oleh kedua orang tua dan kakak laki-lakinya yang bernama Manek Bot. Namun, nasib malang menimpanya, karena ia dihukum mati oleh kakaknya. Sebagai suami Bete Dou, Mane Loro berusaha untuk menghidupkan kembali istrinya. Berhasilkah Mane Loro menghidupkan kembali istrinya? Mengapa Bete Dou dihukum mati oleh kakaknya? Ikuti kisahnya dalam cerita Bete Dou No Mane Loro berikut ini!
* * *
Alkisah, di daerah Nusa Tenggara Timur, hiduplah seorang raja yang bertahta di Kerajaan Wefulan. Sang Raja mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Bete Dou. Sejak dalam kandungan hingga dewasa, ia sangat disayangi oleh kedua orangtua dan kakak laki-lakinya yang bernama Manek Bot. Sang Raja dan permaisuri berharap sang Putri akan membawa berkah untuk kesejahteraan kerajaan dan seluruh rakyatnya. Untuk itu, mereka berniat untuk memingit sang Putri agar kesuciannya tetap terjaga.
Suatu hari, sang Raja memanggil putranya, Manek Bot, untuk menghadap kepadanya.
“Ada apa gerangan Ayahanda memanggil Nanda?” tanya Manek Bot.
“Begini, Putraku! Ayah ingin memingit adikmu. Di belakang istana ini, ada sebuah pohon beringin yang besar dan rimbun. Buatkanlah dia sebuah rumah kecil di atas pohon itu! Setelah itu, Ayah mengamanatkan kepadamu untuk mengawasinya!” perintah sang Raja.
Manek Bot pun segera melaksanakan perintah ayahandanya. Dengan dibantu oleh beberapa pengawal istana, ia pun berhasil membangun sebuah rumah kecil di atas pohon beringin itu dalam waktu sehari. Untuk sampai ke rumah itu, Manek Bot membuat sebuah tangga yang terdiri dari tujuh buah anak tangga besar, tujuh buah anak tangga sedang, dan tujuh buah anak tangga kecil. Rumah dan tangga tersebut kesemuanya terbuat dari kayu cendana yang harum semerbak.
Setelah pembangunan rumah itu selesai, sang Raja pun menyuruh putrinya untuk tinggal di atas pohon itu. Mulanya, sang Putri menolaknya, karena ia tidak ingin hidup kesepian. Namun, setelah dibujuk oleh ibundanya, akhirnya ia pun bersedia pindah ke tempat tinggal barunya itu.
Sejak itu, Putri Bete Dou menjalani hidupnya seorang diri di rumah kecil itu. Untuk mengisi kesepiannya, setiap hari ia menyibukkan diri dengan menyulam dan mengayam tikar. Pada malam harinya, ia selalu melantunkan lagu-lagu sedih, seakan melukiskan kesepiannya hidup sendirian. Senandungnya yang terbawa angin malam menggetarkan telinga orang yang mendengarnya.
Pada suatu malam purnama, seorang putra mahkota dari Kerajaan Loro yang bernama Mane Loro mendengar alunan suara merdu sang Putri. Suara merdu yang terdengar sayup-sayup dari kejauhan itu membuat hati sang Pangeran bergetar dan penasaran ingin mengetahui suara siapakah itu. Dengan kesaktiannya, ia segera terbang mencari sumber suara itu. Tak berapa lama, ia pun tiba dan menjejakkan kakinya di atas pohon beringin. Ia terkejut melihat sebuah rumah kecil yang indah berada di atas pohon. Keterkejutannya pun semakin menjadi setelah mengetahui bahwa sumber suara itu berasal dari dalam rumah itu.
“Aneh! Kenapa ada rumah di atas pohon ini?” tanyanya dalam hati dengan heran.
Perlahan-lahan, Mane Loro pun berjalan mendekati pintu rumah itu dan mencoba melihat ke dalam melalui sebuah lubang kecil. Ia pun tersentak kaget ketika melihat ada seorang putri cantik jelita sedang menganyam tikar sambil bernyanyi.
“Aduhai... bukan hanya suaranya yang merdu, tapi wajah gadis ini pun cantik nan rupawan,” ucap Mane Loro dengan kagum.
Saat itu pula, Mane Loro langsung jatuh hati melihat kecantikan gadis itu dan tidak sabar lagi ingin menemuinya. Ia pun mengetuk pintu dengan perlahan-lahan seraya memanggil gadis yang berada di dalam rumah itu.
“Selamat malam, Gadis cantik! Bolehkan saya meminta bantuan?”
Mendengar ada suara orang meminta bantuan, sang Putri pun menghentikan senandungnya dan segera beranjak menuju pintu. Dari balik pintu rumahnya, ia mencoba melihat ke luar melalui sebuah lubang kecil. Namun karena cahaya remang-remang, ia tidak bisa mengenali wajah laki-laki yang sedang berdiri di depan pintunya.
“Maaf, Tuan! Anda siapa dan berasal dari mana?” tanya sang Putri dari balik pintu.
“Nama saya Mane Loro dari Kerajaan Loro,” jawab Mane Loro.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya sang Putri.
“Saya sangat kagum pada suara merdumu. Bolehkah saya masuk?” pinta Mane Loro.
Putri Bete Dou merasa terpuji dengan ucapan Mane Loro. Tanpa disadarinya, ia pun membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Saat melihat ketampanan dan kegagahan laki-laki itu, sang Putri pun langsung terperangah. Matanya menatap wajah laki-laki itu tanpa berkedip sedikit pun. Mane Loro pun membalasnya dengan tatapan yang tajam dan penuh arti.
Sesaat kemudian, sang Putri mempersilahkan pemuda itu masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintunya kembali. Ia takut ada orang yang mengetahui keberadaan laki-laki itu di rumahnya dan melaporkan kepada ayahandanya. Setelah itu, mereka saling berkenalan lebih jauh. Dalam waktu singkat, keduanya sudah tampak akrab dan saling bersendau gurau. Beberapa hari kemudian, mereka pun menjalin hubungan kasih dan siap untuk melanjutkan hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan.
Pada bulan purnama berikutnya, Mane Loro melamar Bete Dou, dan Bete Dou pun siap untuk sehidup semati bersama Mane Loro. Akhirnya, keduanya pun menikah tanpa sepengetahuan orang tua mereka masing-masing. Sejak itu, setiap malam Mane Loro tidur bersama Bete Dou di rumah itu. Saat subuh menjelang, Mane Loro sudah harus kembali ke istananya agar tidak ketahuan oleh keluarga Bete Dou.
Sebulan kemudian, ayah Mane Loro jatuh sakit. Oleh karena itu, malam-malam selanjutnya Mane Loro tidak bisa mengunjungi istrinya, karena harus menunggu ayahnya. Hal itu membuat hati Bete Dou menjadi sedih.
Pada suatu malam, Manek Bot datang mengunjungi adiknya untuk melihat keadaannya. Ternyata, kedatangannya yang secara tiba-tiba tersebut membuat sang Putri menjadi panik, karena belum sempat menyembunyikan sepasang pakaian Mane Loro yang masih tergantung di dinding rumahnya. Manek Bot pun tersentak kaget saat melihat ada pakaian laki-laki di rumah adiknya.
“Hai, kenapa ada pakaian laki-laki di rumahmu? Pakaian siapakah itu?” tanya Manek Bot.
Mendengar pertanyaan itu, Putri Bete Dou hanya diam dan menunduk. Tubuhnya pun gemetar karena ketakutan.
“Hai, Bete Dou! Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?” bentak Manek Bot.
“Ma... ma... maafkan Adik, Kak! Pakaian itu milik suami Adik,” jawab Bete Dou dengan gugup.
Mendengar jawaban adiknya itu, telinga Manek Bot bagai disambar petir. Wajahnya tiba-tiba memerah bagai terbakar api.
“Apa katamu? Pakaian suamimu? Sejak kapan kamu menikah? Lalu, siapa suamimu itu?” tanya Manek Bot dengan penuh amarah.
“Sebulan yang lalu, Adik menikah secara diam-diam dengan Mane Loro, putra mahkota Kerajaan Loro,” jawab Bete Dou.
“Dasar anak gadis tidak tahu malu!” bentak Manek Bot.
Amarah Manek Bot pun semakin memuncak. Ia benar-benar merasa malu karena perbuatan adik satu-satunya itu. Ia merasa sia-sia membuat rumah cendana di atas pohon beringin itu. Ia tidak mau melihat adiknya lagi. Ia pun segera turun dari rumah meniti anak tangga satu per satu dengan tangan terkepal. Saat kakinya berpijak di tanah, Manek Bot berhenti dan berteriak memanggil adiknya.
“Hai, Bete Dou! Turunlah ke bumi! Engkau telah membuat malu keluarga dan kerajaan!” seru Manek Bot.
Sang Putri pun semakin gemetar ketakutan, karena ia merasa bersalah dan wajar jika kakaknya sangat marah kepadanya. Ia pun sangat menyesal telah menikah dengan Loro Manek tanpa sepengetahuan ayahanda, ibunda, dan kakaknya. Namun, apa hendak dikata, rahasianya terbongkar. Ia hanya bisa pasrah untuk menerima hukuman dari kakaknya.
Dengan langkah perlahan-lahan, Bete Dou turun dari rumahnya dengan meniti anak tangga satu per satu sambil mendendangkan lagu derita. Ketika tiba di anak tangga pertama, ia pun langsung mendapat hukuman dari kakaknya. Tak ayal lagi, tubuhnya tersungkur ke tanah dan meninggal seketika.
Bersamaan dengan itu, seluruh alam semesta berduka cita. Suasana tiba-tiba menjadi hening dan sepi. Binatang malam serentak berhenti berbunyi. Hembusan angin sepoi-sepoi tiba-tiba berhenti, sehingga dedaunan pun ikut berhenti bergoyang. Sementara itu di Kerajaan Loro, Mane Loro yang sedang tertidur di samping ayahnya, tiba-tiba tersentak dari tidurnya. Firasatnya langsung tertuju kepada istrinya.
“Sepertinya aku mempunyai firasat buruk tentang istriku. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengannya,” pikirnya.
Tanpa berpikir panjang, Mane Loro segera terbang meleset menuju ke rumah istrinya. Dalam waktu sekejap, ia pun tiba di rumah istrinya. Namun, kedatangannya sudah terlambat. Ia mendapati istrinya sudah tidak bernyawa lagi. Dengan kesaktiannya, ia melesat bagai burung Rajawali, lalu menyambar tubuh istrinya yang tergelatak di tanah, kemudian menerbangkannya menuju ke istananya. Manek Bot hanya terperangah menyaksikan peristiwa tersebut.
Sesampainya di istana, Mane Loro segera mengobati istrinya. Dengan kesaktiannya dan atas kehendak Tuhan yang Mahakuasa, Putri Bete Dou pun hidup kembali. Sang Putri sangat heran saat melihat suaminya berada di sampingnya dan dikelilingi oleh dayang-dayang yang tidak dikenalnya.
“Kanda! Dinda ada di mana dan mereka siapa?” tanya sang Putri sambil menunjuk ke arah dayang-dayang tersebut.
“Tenanglah, Dinda! Saat ini Dinda sedang berada di istana Kanda. Mereka itu adalah dayang-dayang istana ini,” jawab Mane Loro seraya menceritakan semua peristiwa yang telah dialami istrinya hingga bisa berada di istana itu.
“Kini Kanda menyadari bahwa tindakan kita selama ini memang keliru, karena menikah secara diam-diam tanpa meminta restu dari orang tua kita masing-masing. Inilah saatnya kita meminta restu kepada orang tua Kanda,” bujuk Mane Loro.
“Baiklah, Kanda! Dinda juga merasa sangat bersalah kepada keluarga Dinda. Dinda sangat menyesal, karena tidak menghiraukan nasehat mereka,” kata Bete Dou.
Akhirnya, Mane Loro dan Putri Bete Dou meminta restu kepada orang tua Mane Loro. Bete Dou pun terima dengan baik sebagai menantu Raja Loro. Setelah beberapa lama tinggal di istana Kerajaan Loro, Putri Bete Dou mengajak suaminya untuk menghadap orang tuanya yang berada di Kerajaan Wefulan.
“Kanda! Kini saatnya kita meminta restu kepada orang tua Dinda. Kapan kita akan menemui mereka?” tanya Putri Bete Dou.
“Kanda kira, lebih cepat lebih baik, Dinda!” jawab Mane Loro.
Keesokan harinya, Mare Loro dan istrinya berangkat ke istana Wefulan untuk menemui orang tua Bete Dou. Mereka berangkat dengan arak-arakan pengawal istana yang membawa barang-barang bawaan untuk diserahkan kepada orang tua Bete Dou.
Setibanya di istana Wefulan, mereka disambut oleh raja dan permaisuri Kerajaan Wefulan. Saat berada di hadapan Raja Wefulan, Putri Bete Dou bersama Mare Loro segera bersujud memohon ampun atas kesalahan yang telah mereka perbuat selama ini. Setelah itu, mereka memohon agar sang Raja dan permaisuri merestui pernikahan mereka. Melihat kesungguhan dan ketulusan cinta Bete Dou dan Mane Loro, akhirnya sang Raja, permaisuri, dan Mane Bot memaafkan dan merestui pernikahan mereka. Sejak itu, Mane Loro dan Bete Dou hidup berbahagia bersama keluarga istana Kerajaan Wefulan.
* * *
Demikian cerita Bete Dou No Mane Loro dari daerah Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pesan moral yang tergambar dalam cerita di atas adalah bahwa penyesalan selalu datang kemudian, di mana biasanya seseorang baru akan menyesali perbuatannya setelah ditimpa suatu musibah. Walaupun demikian, menyesali dan mengakui kesalahan serta meminta maaf dengan sungguh-sungguh atas kesalahan yang telah diperbuat merupakan sifat yang terpuji dan dapat menyambung tali silaturrahmi antara sesama. Hal ini ditunjukkan oleh perilaku Putri Bete Dou dan Mane Loro yang telah meminta maaf kepada kedua orang tua mereka masing-masing dan akhirnya pernikahan mereka pun direstui. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
wahai ananda kekasih ibu,
mengaku salah janganlah malu
memaafkan orang jangan menunggu
hati pemurah menjauhkan seteru
Pesan moral lainnya yang tercermin dalam cerita di atas dapat dilihat melalui tokoh yang menjadi ayahanda Bete Dou yang memiliki sifat pemaaf. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat pemaaf mencerminkan kesetiakawanan sosial yang tinggi, rendah hati, ikhlas, tidak pendendam, tertenggang rasa, dan berbudi luhur.  Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
apa tanda Melayu pilihan,
hidup mau bermaaf-maafan
hati pemurah dalam berkawan
dendam dan loba ia jauhkan
petang hari bintang pun terang,
bulan mengambang di langit tinggi
orang berbudi hidupnya tenang,
memaafkan orang bermurah hati
(Samsuni/sas/143/05-09)
Sumber:
  • Isi cerita diadaptasi dari Ahmad Baihaqi. 2008. “Bete Dou No Mare Loro”, dalam buku 366 Cerita Rakyat Nusantara. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa bekerja sama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.
  • Tenas Effendy. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
Sumber foto:  Buku 366 Cerita Rakyat Nusantara, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa bekerja sama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, 2008.

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda Silahkan Tinggalkan Komentar

 

Copyright © 2013 Cerita Rakyat | Edited by ari isnadi Duniaku

Jika anda merasa artikel ini bermanfaat silahkan melakukan Donasi dengan mengklik iklan yang ada jika ingin berdonasi dalam bentuk uang silahkan Kesumber artikel langsung Cerita Rakyat Nusantara