Cerita Rakyat

Kumpulan Cerita Rakyat , Legenda , Dongeng , Cerpen , Gurindam , Puisi Nusantara Indonesia Dari Sabang Sampai Marauke

Wednesday, February 4, 2015

Cerita Rakyat - Kelingking Sakti

Setiap orang memiliki perangai yang berbeda-beda. Ada yang baik, ada pula yang buruk. Di daerah Kepulauan Riau, Indonesia, hiduplah sebuah keluarga yang miskin. Keluarga tersebut terdiri dari seorang ayah, ibu dan tiga orang anak. Ketiga anak tersebut memiliki perangai yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perangai anak yang tua (sulung) dan yang tengah, sangat berbeda dengan anak yang bungsu. Si Bungsu sangat rajin bekerja, sehingga ia menjadi anak kesayangan ayah mereka. Melihat hal itu, anak yang sulung dan yang tengah merasa iri hati dan benci terhadap si Bungsu. Oleh karena itu, mereka berniat untuk mencelakakannya. Apa yang akan dilakukan anak yang sulung dan yang tengah terhadap si Bungsu? Berhasilkah mereka mencelakakan si Bungsu? Bagaimana nasib si Bungsu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Kelingking Sakti berikut ini.
* * *
kelingking saktiAlkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah desa di Kepulauan Riau, hiduplah sepasang suami-istri yang sangat miskin. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka menjaring ikan di sungai dan menanam ubi di ladang. Mereka mempunyai tiga orang anak, semuanya laki-laki. Anak pertama bernama Salimbo, yang kedua bernama Ngah, dan yang ketiga bernama Kelingking.
Sejak bayi, si Bungsu sudah menampakkan keanehan. Tubuhnya kecil dan kerdil, sehingga ia diberi nama Kelingking. Keanehan lain yang ada pada diri Kelingking adalah ia menyusu dengan sangat kuat. Setiap kali menyusui Kelingking, ibunya merasa kesakitan. Karena tidak kuat menahan rasa sakit, akhirnya ibunya meninggal dunia saat Kelingking masih berumur lima bulan. Sejak saat itu, kedua abangnya itu membeci Kelingking. Mereka menganggap Kelingkinglah yang menyebabkan ibu mereka meninggal dunia.
Sepeninggal ibu mereka, Kelingking dan kedua saudaranya kemudian hidup dalam asuhan ayahnya. Setiap hari mereka membantu ayahnya mencari ikan di sungai dan menanam ubi di ladang. Terkadang pula mereka mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Di antara ketiga bersaudara, Kelingkinglah yang paling rajin bekerja, sehingga ia menjadi anak kesayangan ayahnya. Melihat hal itu, bertambah bencilah kedua saudaranya kepada Kelingking. Karena merasa iri terhadap Kelingking, kedua saudaranya berniat jahat kepadanya.
Pada suatu hari, Salimbo dan Ngah hendak melaksanakan niatnya. Mereka kemudian mengajak Kelingking mencari kayu di hutan tanpa sepengetahuan ayahnya. Mereka memang sengaja ingin mencelakakan Kelingking dengan membawanya ke dalam hutan di mana terdapat banyak binatang buas. Tanpa rasa curiga sedikit pun, dengan senang hati Kelingking menerima ajakan kedua saudaranya itu.
Sesampai di hutan, mereka masing-masing sibuk mencari kayu. Karena tubuhnya kecil, Kelingking hanya mengumpulkan ranting-ranting kecil. Menjelang siang hari, mereka sudah merasa kelelahan. Pada saat mereka beristirahat di bawah sebatang pohon, tiba-tiba seekor kancil melintas tak jauh dari tempat mereka duduk. “Kelingking! Kejar kancil itu!” perintah Salimbo kepada Kelingking. “Jangan sampai lolos, Adikku!” tambah Ngah menyemangati. Kelingking pun mengejar kancil itu hingga jauh masuk ke dalam hutan. Pada saat itulah, mereka berdua menggunakan kesempatan meninggalkan Kelingking di dalam hutan sendirian.
Dengan tergopoh-gopoh, Salimbo dan Ngah pulang menemui ayahnya. “Ayah, maafkan kami. Kami tidak dapat menjaga Kelingking. Dia diterkam harimau di tengah hutan,” kata Salimbo berbohong sambil berpura-pura menangis. “Benar, Ayah. Kami sudah berusaha sekuat tenaga menolongnya. Tapi, kami tidak dapat menyelamatkannya. Harimau itu terlalu ganas,” sambung Ngah ikut berbohong. “Benarkah yang kalian katakan itu?” tanya sang Ayah seakan tak percaya dengan berita itu. “Benar, Ayah!” jawab Salimbo dan Ngah serentak. Mendengar jawaban yang meyakinkan itu, sang Ayah pun percaya begitu saja. Ia sangat bersedih kehilangan Kelingking yang sangat disayanginya itu.
Sementara itu, Kelingking terus mengejar kancil itu hingga tertangkap. Ia senang sekali. “Jika kancil ini aku bawa pulang, ayah dan kedua abangku pasti sangat senang,” gumam Kelingking sambil mengikat kaki kancil itu dengan akar kayu. Baru saja selesai bergumam, tiba-tiba Kelingking dikejutkan oleh bunyi suara yang sedang berbicara kepadanya. “Hai, Orang Muda! Tolong lepaskan aku. Aku adalah raja kancil di hutan ini. Jika kamu mau melepaskanku, kamu akan kuajari cara menangkap kancil,” bujuk sang Kancil. Kelingking seakan tak percaya, jika kancil yang ditangkapnya itu bisa berbicara seperti manusia. “Baiklah, Kancil! Aku akan melepaskanmu, tapi aku diajari cara menangkap kancil seperti yang kau janjikan,” kata Kelingking sambil melepaskan ikatan pada kaki-kaki kancil itu.
Kancil itu kemudian mengajari Kelingking cara menangkap dan menjebak kancil. Setelah menurunkan semua ilmunya kepada Kelingking, Kancil pun berpesan, “Orang Muda! Dengan ilmu yang aku ajarkan, kamu dapat menangkap kancil sebanyak-banyaknya. Tapi, kamu hanya boleh menangkap kancil yang nakal-nakal saja.” Usai berpesan, kancil itu kemudian kembali ke tempat asalnya.
Sementara itu, Kelingking mencoba kemampuan ilmunya menangkap kancil yang baru saja diterimanya itu. Dalam sekejap, Kelingking mampu menangkap dua ekor kancil. Kemudian diikatnya kedua kancil itu erat-erat, lalu ia bawa pulang ke rumah. Akhirnya, ia pun selamat sampai di rumah, tanpa ada gangguan binatang buas.
Sesampai di depan pintu rumahnya, Kelingking berseru memanggil ayah dan kedua abangnya. “Ayah...! Abang... ! Aku pulang....! Mendengar suara teriakan dari luar rumah, ayahnya segera membukakan pintu. Ayahnya sangat senang sekali, karena anak kesayangannya ternyata masih hidup. “Ya, syukurlah anakku! Kamu selamat dari terkaman harimau,” kata ayahnya sambil memeluk Kelingking.
Sementara itu, kedua abangnya yang telah meninggalkannya di tengah hutan, terheran-heran melihat Kelingking. “Bagaimana mungkin Kelingking bisa selamat dari binatang buas yang ada di dalam hutan itu?” tanya Salimbo dalam hati. Demikian pula Ngah, dalam hatinya bertanya-tanya, “Bagaimana Kelingking bisa menangkap kancil dua ekor sekalian, padahal yang dikejarnya tadi hanya satu?” Kelingking kemudian memberikan kedua ekor kancil tersebut kepada kedua abangnya untuk dimasak dan kemudian disantap bersama-sama.
Pada suatu hari. Salimbo dan Ngah kembali berniat jahat kepada Kelingking. Mereka mengajak Kelingking ke laut yang banyak dihuni ikan jerung[1]. Dengan sebuah perahu kecil, berangkatlah mereka ke laut mencari ikan. Setibanya di tempat yang dikira-kira banyak ikan jerung, Salimbo dan Ngah pura-pura menebar jala untuk menangkap ikan. Mereka kemudian mengatakan jala itu tersangkut di batu karang, dan menyuruh Kelingking terjun ke laut untuk melepaskan jala mereka. Mereka berharap Kelingking dimakan ikan jerung yang ganas itu.
Benar kata Salimbo dan Ngah. Begitu Kelingking terjun ke laut, ikan-ikan jerung yang ganas tersebut langsung menyerangnya. Pada saat Kelingking timbul-tenggelam bergulat dengan ikan jerung tersebut, Salimbo dan Ngah bergegas mengayuh perahunya pulang. Sesampainya di rumah, mereka kemudian menyampaikan berita kematian Kelingking kepada ayah mereka. Mendengar berita itu, ayah mereka sangat sedih. Pada malam hari, tengah sang Ayah meratapi nasib malang Kelingking, tiba-tiba Kelingking muncul di depan pintu, “Ayah, Aku pulang!" Mendengar suara Kelingking, ayahnya segera beranjak dari tempatnya lalu memeluk Kelingking dengan erat. “Kelingking, Anakku! Ayah mengira kamu sudah meninggal dilahap oleh ikan-ikan jerung itu!” kata sang Ayah kepada anaknya. “Dengan ajaib, Kelingking berhasil mengalahkan ikan-ikan jerung yang ganas itu. Lihat, Ayah! Kelingking membawa ikan jerung besar untuk makan malam kita,” jelas Kelingking kepada ayahnya sambil menunjukkan dua ekor ikan jerung yang dijinjingnya. Kemudian kedua ikan jerung tersebut diserahkannya kepada abangnya untuk dimasak dan dimakan bersama.
Waktu terus berlalu. Kini Kelingking sudah dewasa. Ia berniat pergi merantau untuk mengubah nasib dirinya dan keluarganya yang selama ini hidup dalam kemiskinan. “Kini saatnya aku mengubah nasib keluargaku. Aku harus pergi merantau. Lagipula ayah tidak tinggal sendirian di rumah. Ada Abang Salimbo dan Abang Ngah yang menemaninya. Pasti ayah akan mengizinkanku,” kata Kelingking dalam hati memantapkan niatnya.
Pada suatu malam, Kelingking mengutarakan niatnya itu kepada ayahnya. “Ayah, sekarang Kelingking sudah dewasa. Izinkanlah Kelingking pergi merantau. Kelingking ingin memperbaiki kehidupan keluarga kita,” ia meminta kepada ayahnya. Meskipun berat hati, sang Ayah pun mengizinkan anak kesayangannya itu pergi merantau. “Ayah mengerti perasaanmu, Anakku! Ayah merestui dan mendoakan semoga kamu dapat mencapai cita-citamu,” jawab ayahnya mengizinkan. “Terima kasih, Ayah! Jika sudah berhasil di perantauan, Kelingking segera kembali menjemput Ayah, Abang Salimbo dan Abang Ngah,” kata Kelingking dengan perasaan gembira.
Keesokan harinya, dengan berbekal tujuh buah ketupat, berangkatlah Kelingking merantau. Sudah berbulan-bulan Kelingking mengembara. Namun, ketupatnya masih utuh, tak ada satu pun yang dimakannya. Selama dalam pengembaraan, ia hanya makan buah dan daun-daunan yang ditemuinya di hutan.
Suatu siang, sampailah Kelingking di hutan lebat. Kemudian Kelingking duduk beristirahat di bawah sebuah pohon besar. Karena kelelahan, ia pun tertidur. Dalam tidurnya, terdengar sebuah suara yang berseru kepadanya, “Hai, Orang Muda! Jika kamu ingin menjadi menantu raja, ikatlah ketupatmu dengan akar tuba dan masukkanlah ke dalam sungai yang mengalir di hutan ini. Apabila air sungai itu sudah berbuih, berarti ikan besar di dalamnya sudah mati. Selamilah sungai itu dan ambil ikannya.”Belum sempat berkata apa-apa, Kelingking pun terbangun dari tidurnya. Tanpa berpikir panjang, Kelingking pun segera bangkit mencari akar tuba. Setelah mendapat beberapa akar tuba, ia pun menyusuri hutan itu untuk mencari sungai yang dimaksud dalam mimpinya.
“Ah, inilah sungai dalam mimpiku,” gumam Kelingking. Ia pun segera mengikat ketujuh ketupatnya dengan akar tuba dan memasukkannya ke dalam sungai. Tak berapa lama kemudian, air sungai pun berbuih dan diselaminya sungai itu. Setelah beberapa lama menyelam, Kelingking mendapatkan seekor ikan besar. Ikan itu kemudian dibakar dan dimakannya hingga hanya kepalanya yang tersisa. Setelah melaksanakan semua perintah dalam mimpinya, Kelingking mulai bingung. “Aku harus berbuat apa lagi? Semua perintah sudah aku laksanakan, tapi tidak ada tanda-tanda akan kedatangan seorang putri. Di sini tidak ada seorang pun selain aku,” gumam Kelingking dengan perasaan kesal. Merasa apa yang dilakukannya sia-sia, ia pun menendang kepala ikan itu hingga terbang melambung tinggi ke angkasa. Ia sudah tidak mempedulikan lagi di mana kepala ikan itu jatuh. Ia kemudian melanjutkan pengembaraannya tanpa tentu arah.
Suatu hari, sampailah Kelingking di sebuah kampung. Seluruh penduduk kampung itu membicarakan tentang kepala seekor ikan yang jatuh secara tiba-tiba di depan istana. Ternyata kepala ikan yang dimaksud itu adalah kepala ikan yang ditendang oleh Kelingking beberapa hari yang lalu. Kepala ikan itu seakan-akan menempel di tanah, sehingga tak seorang pun yang dapat memindahkannya. Padahal kepala ikan yang besar itu mengganggu keindahan istana. Putri raja yang merasa terganggu pandangannya meminta kepada ayahnya agar kepala ikan itu disingkirkan dari depan istana. “Ayah, kepala ikan yang di depan istana itu sangat mengganggu pemandangan. Dapatkah kepala ikan itu disingkirkan dari tempat itu?” pinta sang Putri kepada ayahnya.
Raja kemudian mengerahkan seluruh panglima dan pengawal istana untuk memindahkan kepala ikan itu. Satu per satu panglima dan pengawal mencoba mengangkat kepala ikan itu secara bergantian. Namun, tidak seorang pun di antara mereka yang mampu menggerakkannya. Kemudian mereka beramai-ramai mengangkatnya, tapi usaha mereka tetap sia-sia. Jangankan kepala ikan itu bergeser, bergerak sedikit pun tidak.
Melihat keadaan itu, Raja pun mengadakan sayembara, “Wahai seluruh penduduk negeri, barangsiapa yang dapat memindahkan kepala ikan dari depan istana, jika laki-laki akan kunikahkan dengan putriku, dan jika perempuan akan kuangkat sebagai anak,” seru Raja kepada rakyatnya.
Sesaat sebelum sayembara itu dimulai, seluruh penduduk telah berkumpul di depan istana. Tidak ketinggalan pula Kelingking ikut dalam sayembara itu. Saat ia melihat kepala ikan itu, Kelingking tersentak kaget, “Sepertinya aku mengenal kepala ikan itu?” gumam Kelingking. Ternyata, ia baru tersadar jika kepala ikan itulah yang pernah ia tendang beberapa hari yang lalu.
kelingking saktiTak lama kemudian, sayembara pun dimulai. Para peserta sayembara maju satu per satu untuk memindahkan kepala ikan itu. Namun, tidak seorang pun yang mampu menggerakkannya. Tibalah giliran Kelingking. Melihat badannya yang kecil, orang-orang mencemooh dan menertawakkannya. Tetapi Kelingking tidak peduli. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, dikelilinginya kepala ikan itu tujuh kali. Kemudian dicungkilnya kepala ikan itu dengan jari kelingkingnya. Sungguh ajaib. Seakan tidak mengeluarkan tenaga, dengan mudahnya Kelingking mengangkat kepala ikan itu dan menguburnya di belakang istana. Maka, Kelingkinglah yang dinyatakan sebagai pemenang dalam sayembara itu. Ia berhak untuk menikah dengan putri raja sebagaimana janji raja.
“Orang Muda! Meskipun tubuhmu kecil, tapi kamu mampu memindahkan kepala ikan itu. Sesuai dengan janjiku, pekan ini juga kamu akan kunikahkan dengan putriku,” kata sang Raja dengan kagum. Sepekan kemudian, pesta pernikahan Kelingking dengan putri raja dilaksanakan dengan ramainya. Dalam pesta tersebut, ditampilkan berbagai macam nyanyian dan tari-tarian istana. Seluruh keluarga istana dan penduduk negeri turut berbahagia atas pernikahan tersebut.
Beberapa hari setelah menikah, Kelingking menjemput ayah dan kedua abangnya untuk tinggal bersamanya di istana. Kelingking pun hidup berbahagia bersama sang Putri dan keluarganya.
* * *
Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita-cerita teladan. Adapun nilai-nilai moral yang terkandung dalam cerita di atas di antaranya sifat tidak pendendam, selalu menepati janji dan suka berdusta atau berbohong kepada orang tua. Sifat tidak pendendam tercermin pada sifat Kelingking. Meskipun kedua abangnya beberapa kali berusaha untuk mencelakakan dirinya, Kelingking tidak pernah merasa dendam terhadap kedua abangnya. Sifat selalu menepati janji tercermin pada sifat Kelingking dan sang Raja. Kelingking telah menepati janjinya dengan menjemput ayah dan kedua abangnya setelah ia berhasil yaitu menjadi menantu raja. Demikian pula sang Raja, ia telah menepati janjinya untuk menikahkan putrinya kepada siapa saja yang memenangi sayembara itu. Sementara sifat suka berdusta atau berbohong kepada kedua orang tercermin pada sifat Salimbo dan Ngah. Mereka telah dua kali berbohong kepada ayahnya dengan menyampaikan berita bohong, bahwa Kelingking telah meninggal dunia diterkam harimau di hutan dan dimakan ikan jerung di laut.
Dua sifat yang pertama, yaitu tidak pendendam dan suka menepati janji, patut untuk dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam masyarakat Melayu, sifat tidak pendendam atau pemaaf amat dimuliakan. Orang-orang tua mengatakan, bahwa sifat ini mencerminkan kesetiakawanan sosial yang tinggi, menggambarkan sifat rendah hati, bertenggang rasa dan berbudi luhur. Dalam ungkapan adat dikatakan, “siapa taat memeluk agama Islam, dendam kesumat ia haramkan,” atau “siapa setiap memegang adat, dendam kesumat ia pantangkan.” Tenas Effendy juga mengungkapkan hal yang sama dalam untaian syair seperti berikut ini:
wahai ananda peganglah amanah,
jalani hidup di jalan Allah
lapangkan dada serta pemurah
hapuslah dendam jauhkan fitnah
Sementara sifat suka berdusta atau berbohong adalah sifat tercela yang harus dihindari. Sifat ini sangat dipantangkan oleh orang Melayu. Bagi mereka, sifat ini menyangkut harkat, martabat dan marwah mereka. Bagi yang melanggarnya, dianggap sebagai penghinaan terhadap mereka. Tenas Effendy dalam bukunya “Ejekan” terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau, banyak mengungkapkan tentang sifat berdusta atau berbohong dalam bentuk ungkapan seperti berikut:
apa tanda orang yang nista,
bercakap bohong berkata dusta
kalau suka bercakap bohong,
alamat badan akan terkurung
kalau suka berkata dusta,
alamat hidup beroleh nista
(SM/sas/30/9-07)
Read More..

Cerita Rakyat Riau - Suak Air Mengubuk (Si Miskin Yang Tamak)

Semua orang tahu, hidup miskin itu tidak mudah untuk dijalani, karena banyaknya keinginan-keinginan yang tidak mampu dicapai. Apa sebenarnya kemiskinan itu? Hampir semua manusia di dunia ini mempunyai definisi yang sama tentang pengertian kemiskinan. Banyak orang yang menilai bahwa kemiskinan adalah sedikitnya harta yang dimiliki. Tidak jarang pula mendefinisikan kemiskinan itu ialah tidak lengkpanya nilai dalam kehidupan, baik dari harta-benda maupun ilmu pengetahuan.
Pertanyaannya, apa sebenarnya yang menyebabkan kemiskinan itu? Apakah kemiskinan itu adalah warisan, sumpahan, hukum alam, dan atau mungkin karena dari kita sendiri? Jawaban atas semua pertanyaan ini ada pada diri kita masing-masing. Tapi yang jelas, barangkali tidak ada orang yang memandang bahwa kemiskinan itu sesuatu yang positif. Siapa yang ingin hidup miskin? Orang gila pun kalau dia tahu dia gila, tentu tidak ingin menjadi orang gila. Tapi, dia tidak tahu kalau dirinya gila. Apalagi orang miskin. Orang yang menyadari dirinya miskin, tentu sekali tidak ingin hidup miskin. Hal inilah yang perlu disadari pula bahwa semua manusia berhak hidup kaya. Semua manusia berhak memperjuangkan kehidupan masing-masing. Semua manusia berhak meluruskan nilai kehidupan keturunan sendiri, agar tidak menjadi hamba kemiskinan.
Ada banyak jalan agar orang tidak menjadi hamba kemiskinan, di antaranya adalah kemauan untuk bekerja keras, tidak bermalas-malasan, atau mungkin tiba-tiba mendapat rahmat dari Tuhan Yang Maha Pengasih yang tidak diduga-duga. Apakah itu langsung melalui tangan orang lain, atau mendapat ilham yang didapat melalui mimpi. Namun, tidak jarang pula orang yang telah mendapat rezeki, tidak tahu mensyukurinya. Orang yang tidak tahu mensyukuri nikmat, biasanya disebut sebagai orang yang serakah atau tamak.
Dalam sebuah cerita rakyat yang berkembang di Negeri Rantau Baru (sekarang Desa Rantau Baru, Pelalawan, Provinsi Riau, Indonesia), dikisahkan bahwa pada zaman dahulu kala, telah hidup sepasang suami-istri yang sangat miskin, tapi serakah. Pada suatu malam, sang Suami mendapat ilham melalui mimpinya. Dalam mimpi itu, ia bertemu dengan seorang kakek yang memberinya petunjuk agar ia pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan sesuatu benda yang sangat berharga. Benda berharga apakah yang dimaksud kakek itu? Berhasilkah sang Suami membawa pulang benda berharga itu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Suak Air Mengubuk berikut ini.
* * *
panglima kawalAlkisah, pada zaman dahulu kala, di Negeri Rantau Baru, Pelalawan, Riau, hiduplah sepasang suami-istri yang sangat miskin. Penghasilan mereka yang sangat kecil tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Kadang makan kadang tidak. Pakaian pun hanya yang melekat di badanlah yang mereka miliki. Semakin hari kehidupan mereka semakin memprihatinkan.
Pada suatu malam, si Miskin bermimpi bertemu dengan seorang kakek. Kakek itu memberikan seutas tali kepadanya seraya berkata, “Besok pagi bawalah sampan besar ke sebuah suak yang tak jauh dari Sungai Sepunjung.” Belum sempat si Miskin menjawab, kakek itu tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Si Miskin pun terjaga dari tidurnya. Ia mengusap-usap matanya tiga kali, seakan ia tak percaya yang baru saja dialaminya. “Apa maksud si kakek menyuruh saya ke suak itu?” tanya si Miskin dalam hati. Karena hari masih gelap, si Miskin pun melanjutkan tidurnya.
Keesokan harinya, si Miskin berangkat menuju suak seperti yang dikatakan si Kakek dalam mimpinya semalam. Tak lupa dibawanya sebuah sampan besar. Sambil mengayuh sampan, hati kecilnya terus bertanya-tanya, “Apakah ini pertanda nasib buruk saya akan segera berakhir?”. Pikiran-pikiran itu terus bergejolak dalam pikirannya. Tak terasa, sampailah si Miskin di tepi  Sungai Sepunjung. Ia pun duduk di dalam sampannya sambil menunggu sesuatu yang dijanjikan si Kakek itu. Sesekali ia bermain air dan bersiul menirukan bunyi burung yang berkicau di sekelilingnya. Wajahnya yang tertimpa cahaya matahari pagi terlihat cerah mengharap datangnya suatu keberuntungan.
Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba si Miskin dikejutkan oleh seutas tali yang muncul dari dalam suak. Tanpa pikir panjang, ditariknya tali tersebut sekuat-kuatnya. Baru beberapa tarikan, sampailah ia pada ujung tali itu. Si Miskin tersentak kaget ketika ia melihat suatu benda yang berkilau-kilau ditimpa cahaya matahari. “Benar dugaanku, nasib burukku akan segera berakhir,” gumam si Miskin dengan senangnya, ketika ia melihat di ujung tali itu tedapat rantai emas tiga kaluk.
Tengah si Miskin menarik rantai itu, tiba-tiba dari atas pohon yang tak jauh dari tempat itu, terdengar pico seekor murai, “Potonglah cepat rantai itu! Hanya itu bagianmu!” Namun, si Miskin tidak menghiraukan picoan murai itu. Ia semakin cepat menarik tali itu dengan harapan akan mendapat rantai emas yang lebih banyak lagi. Dengan kekuatan yang dimilikinya, ia menarik tali itu terus, terus, dan terus.... tapi apa yang ditariknya itu semakin lama semakin terasa berat. Tiba-tiba muncul gelembung-gelembung air dari dalam sungai. Awalnya gelembung itu kecil, lama-kelamaan menjadi seperti gelombang. Tak dalam kemudian, terdengar suara gemuruh dari dalam air. Tanpa disadarinya, tiba-tiba gelombang besar muncul seperti bono dan langsung menghempas sampan si Miskin.
Tak ayal lagi, si Miskin pun terlempar keluar dari  sampan dan jatuh ke dalam air. Bersamaan dengan itu, sampannya hanyut dan akhirnya tenggelam terbawa arus sungai. Dengan sekuat tenaga, si Miskin berusaha berenang menuju tepi sungai melawan arus gelombang air yang besar itu. Ketika ia sudah sampai di tepi sungai, air sungai yang tadinya bergelombang kembali menjadi tenang seperti semula. Tapi gelembung air masih saja tampak di permukaan sungai itu.
Setelah selamat dari hempasan gelombang besar itu, si Miskin pun pulang ke gubuknya dengan tangan hampa. Karena kecapaian, ia pun segera tertidur lelap. Dalam tidurnya, ia bermimpi didatangi kakek itu lagi. “Hai, Miskin! Kamu memang tamak dan tidak pandai bersyukur. Mengapa rantai tiga kaluk itu tidak kau ambil? Bukankah sudah kuberi tahu lewat picoan murai?” ujar kakek itu.
“Maafkan saya Kek. Berilah saya kesempatan sekali lagi, saya berjanji tidak akan berbuat tamak lagi,” pinta si Miskin sambil menyembah-nyembah. “Apa boleh buat, Miskin! Kamu pantas menerima balasan itu atas ketamakanmu,” jawab si Kakek. Sesaat setelah berkata demikian, tiba-tiba kakek itu menghilang. Tak berapa lama, ayam jantan pun berkokok menandakan waktu subuh tiba. Si Miskin pun terbangun dari tidurnya.
panglima kawalPagi-pagi sekali, si Miskin kembali lagi ke tempat kejadian kemarin. Ia berharap akan menemukan sesuatu di sana. Lama dia menanti di tepian, tapi ia tidak menemukan sesuatu yang diharapkannya. Di tepian, ia hanya duduk termangu melihat air suak itu mengubuk tak henti-hentinya. Setiap pagi si Miskin pergi ke tempat itu, karena masih berharap akan mendapatkan sesuatu dari sana. Namun, hanya air yang mengubuk itu yang ia temukan. Pepatah mengatakan “Menyesal kemudian tiadalah guna. Begitulah nasib si Miskin, ia  hanya bisa menyesali ketamakannya itu.
Hingga kini, suak air yang mengubuk itu masih dapat kita saksikan di hilir Desa Rantau Baru, Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau, Indonesia.
Kamus kecil :
Suak : mata air di sungai
Kaluk : lengkung
Pico : kicau
Bono : gelombang besar yang terdapat di muara sungai
Mengubuk : memunculkan gelombang air
* * *
Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita-cerita teladan. Di dalamnya terkandung nilai-nilai moral yang patut dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu nilai moral yang terkandung dalam cerita di atas adalah sifat tamak atau serakah. Sifat ini tercermin pada sifat si Miskin yang tidak bersyukur atas rezeki yang diberikan kepadanya melalui kakek itu.
Sifat serakah adalah salah satu penyakit hati manusia yang tidak akan pernah hilang di dunia ini, kecuali setelah maut menjemputnya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya, “Seandainya anak-cucu Adam mendapatkan dua lembah berisi emas, niscaya dia masih menginginkan lembah emas yang ketiga. Tidak pernah kenyang perut anak Adam kecuali setelah ditutup tanah (mati). Dan Allah SWT mengampuni orang-orang yang bertaubat.” (H.R. Ahmad). Hadis ini menjelaskan bahwa hanya maut yang dapat mengakhiri sifat serakah itu. Meskipun demikian, Allah SWT adalah Maha Pengampun. Setiap hamba yang bertaubat dengan sungguh-sungguh sebelum Malaikat Maut mencabut nyawanya, Allah SWT akan mengampuninya.
Yang dimaksud dengan serakah atau tamak adalah sikap yang tidak pernah merasa puas dengan yang sudah dicapainya. Karena ketidakpuasannya itu, segala macam cara pun ditempuh. Seperti pada cerita di atas, meskipun si Miskin telah dinasihati oleh si Kakek melalui picoan muri, ia tetap saja tidak menghiraukannya. Sifat serakah memang selalu membawa kepada kondisi yang lebih baik. Namun, biasanya orang yang serakah tidak pernah berfikir apakah mengorbankan kepentingan orang lain atau tidak, yang penting kebutuhan nafsu syahwatnya terpenuhi. Oleh karena itu, sifat serakah ini harus segera dibersihkan, agar penyakit hati ini tidak menimbulkan malapateka bagi orang lain. Orang yang serakah, akan membuat mata hati dan pendengarannya menjadi buta dan tuli. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Cintamu terhadap sesuatu membuat kamu  buta dan tuli.” (H.R. Ahmad).
Dalam konteks sekarang, salah satu sifat serakah yang mengakibatkan malapetaka besar adalah korupsi. Sifat korupsi tidak hanya dapat merugikan orang lain, akan tetapi juga bagi sebuah negara. Kata korupsi berasal dari bahasa Inggris corrupt, yang berarti jahat, curang, atau rusak. Dikatakan demikian, karena pelakunya bermental jahat, curang dan buruk. Pertanyaannya adalah kenapa orang berbuat korupsi? Setidaknya ada dua faktor yang mendorong orang berbuat korupsi yaitu financial pressure (tekanan ekonomi) dan work related pressure (tekanan relasi kerja). Yang termasuk golongan pertama adalah serba kekurangan dan terdesak kebutuhan. Sementara golongan yang kedua adalah karena ketersinggungan harga diri atau prestasinya kurang dihargai. Bisa juga karena karir yang terlambat karena sesuatu alasan.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara sembuh dari penyakit serakah? Tunjuk Ajar Melayu senantiasa menganjurkan agar setiap anggota masyarakat tahu dan mau mensyukuri nikmat yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya. Orang tua-tua Melayu mengatakan, orang yang pandai bersyukur akan terhindar dari sifat loba, tamak, jauh dari sifat serakah dan kufur nikmat, serta terhindar dari keburukan lainnya. Berbagai ungkapan, syair dan pantun orang Melayu yang menganjurkan agar setiap anggota masyarakat tahu dan mau bersyukur, sehingga terhindar dari penyakit serakah. Tenas Effendy dalam bukunya “Tunjuk Ajar Melayu” banyak menyebutkan hal tersebut, di antaranya:
Dalam bentuk ungkapan dikatakan:
apa tanda orang semenggah,
menerima nikmat tiada serakah
Dalam untaian syair dikatakan:
wahai ananda banyakan bersyukur,
mengingat Allah dalam takafur
supaya menjauh sifat yang kufur
hidupmu tidak merasa takabur
Dalam untaian pantun juga dikatakan:
wahai ananda hendaklah ingat,
siapa tak mau mensyukuri nikmat
hidupnya hina mati pun sesat
sepanjang masa dalam melarat
(SM/sas/28/9-07)
Semenggah      : senonoh, wajar.
Read More..

Cerita Rakyat Riau - Puteri Kaca Mayang, Asal Mula Kota Pekanbaru

Kota Pekanbaru adalah salah satu Daerah Tingkat II sekaligus sebagai ibukota Provinsi Riau, Indonesia. Sebelum ditemukannya sumber minyak, Pekanbaru hanyalah sebuah kota pelabuhan kecil yang berada di tepi Sungai Siak. Namun, saat ini Pekanbaru telah menjadi kota yang ramai dengan aktifitas perdagangannya. Letaknya yang strategis (berada di simpul segi tiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Singapura), menjadikan Kota Pekanbaru sebagai tempat transit (persinggahan) para wisatawan asing, baik dari Singapura maupun Malaysia, yang hendak berkunjung ke Bukittinggi atau tempat-tempat lain di Sumatera.
Keberadaan Kota Pekanbaru yang ramai ini memiliki sejarah dan cerita tersendiri bagi masyarakat Riau. Terdapat dua versi mengenai asal-mula kota ini yaitu versi sejarah dan versi cerita rakyat. Menurut versi sejarah, pada masa silam kota ini hanya berupa dusun kecil yang dikenal dengan sebutan Dusun Senapelan, yang dikepalai oleh seorang Batin (kepala dusun). Dalam perkembangannya, Dusun Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki, yang terletak di tepi Muara Sungai Siak. Perkembangan Dusun Senapelan ini erat kaitannya dengan perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Pada masa itu, raja Siak Sri Indrapura yang keempat, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, bergelar Tengku Alam (1766-1780 M.), menetap di Senapelan, yang kemudian membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan Dusun Senapelan (di sekitar Mesjid Raya Pekanbaru sekarang). Tidak berapa lama menetap di sana, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah kemudian membangun sebuah pekan (pasar) di Senapelan, tetapi pekan itu tidak berkembang. Usaha yang telah dirintisnya tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya, Raja Muda Muhammad Ali di tempat baru yaitu di sekitar pelabuhan sekarang. Selanjutnya, pada hari Selasa tanggal 21 Rajab 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784 M., berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar), negeri Senapelan diganti namanya menjadi Pekan Baharu. Sejak saat itu, setiap tanggal 23 Juni ditetapkan sebagai hari jadi Kota Pekanbaru. Mulai saat itu pula, sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer dengan sebutan Pekan Baharu. Sejalan dengan perkembangannya, kini Pekan Baharu lebih populer disebut dengan sebutan Kota Pekanbaru, dan oleh pemerintah daerah ditetapkan sebagai ibukota Provinsi Riau.
Sementara menurut versi cerita rakyat yang sampai saat ini masih berkembang di kalangan masyarakat Riau, kerajaan yang berdiri di tepi Sungai Siak itu bernama Gasib. Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja yang bernama Gasib. Konon, Raja Gasib memiliki seorang putri yang cantik jelita, namanya Putri Kaca Mayang. Namun tak seorang raja atau bangsawan yang berani meminang sang Putri, karena mereka segan kepada Raja Gasib yang terkenal memiliki panglima gagah perkasa yang bernama Gimpam. Pada suatu hari, Raja Aceh memberanikan diri meminang sang Putri, namun pinangannya ditolak oleh Raja Gasib. Karena kecewa dan merasa terhina, Raja Aceh berniat membalas dendam. Apa yang akan terjadi dengan Kerajaan Gasib? Bagaimana nasib sang Putri? Lalu, apa hubungannya cerita ini dengan asal mula Kota Pekanbaru? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Putri Kaca Mayang berikut ini.
* * *
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di tepi Sungai Siak berdirilah sebuah kerajaan yang bernama Gasib. Kerajaan ini sangat terkenal, karena mempunyai seorang panglima yang gagah perkasa dan disegani, Panglima Gimpam namanya. Selama ia menjadi penglima Kerajaan Gasib, tiada satu pun kerajaan lain yang dapat menaklukkannya.
Selain itu, Kerajaan Gasib juga mempunyai seorang putri yang kecantikannya sudah masyhur sampai ke berbagai negeri, Putri Kaca Mayang namanya. Meskipun demikian, tak seorang raja pun yang berani meminangnya. Mereka merasa segan meminang sang Putri, karena Raja Gasib terkenal mempunyai Panglima Gimpam yang gagah berani itu.
Pada suatu hari, Raja Aceh memberanikan dirinya meminang Putri Kaca Mayang. Ia pun mengutus dua orang panglimanya untuk menyampaikan maksud pinangannya kepada Raja Gasib. Sesampainya di hadapan Raja Gasib, kedua panglima itu kemudian menyampaikan maksud kedatangan mereka. “Ampun, Baginda! Kami adalah utusan Raja Aceh. Maksud kedatangan kami adalah untuk menyampaikan pinangan raja kami,” lapor seorang utusan. “Benar, Baginda! Raja kami bermaksud meminang Putri Baginda yang bernama Putri Kaca Mayang,” tambah utusan yang satunya.
 “Maaf, Utusan! Putriku belum bersedia untuk menikah. Sampaikan permohonan maaf kami kepada raja kalian,” jawab Raja Gasib dengan penuh wibawa. Mendengar jawaban itu, kedua utusan tersebut bergegas kembali ke Aceh dengan perasaan kesal dan kecewa.
Di hadapan Raja Aceh, kedua utusan itu melaporkan tentang penolakan Raja Gasib. Raja Aceh sangat kecewa dan merasa terhina mendengar laporan itu. Ia sangat marah dan berniat untuk menyerang Kerajaan Gasib.
Sementara itu, Raja Gasib telah mempersiapkan pasukan perang kerajaan untuk menghadapi serangan yang mungkin terjadi, karena ia sangat mengenal sifat Raja Aceh yang angkuh itu. Panglima Gimpam memimpin penjagaan di Kuala Gasib, yaitu daerah di sekitar Sungai Siak.
Rupanya segala persiapan Kerajaan Gasib diketahui oleh Kerajaan Aceh. Melalui seorang mata-matanya, Raja Aceh mengetahui Panglima Gimpam yang gagah perkasa itu berada di Kuala Gasib. Oleh sebab itu, Raja Aceh dan pasukannya mencari jalan lain untuk masuk ke negeri Gasib. Maka dibujuknya seorang penduduk Gasib menjadi penunjuk jalan.
 “Hai, orang muda! Apakah kamu penduduk negeri ini?, tanya pengawal Raja Aceh kepada seorang penduduk Gasib. “Benar, Tuan!” jawab pemuda itu singkat. “Jika begitu, tunjukkan kepada kami jalan darat menuju negeri Gasib!” desak pengawal itu. Karena mengetahui pasukan yang dilengkapi dengan senjata itu akan menyerang negeri Gasib, pemuda itu menolak untuk menunjukkan mereka jalan menuju ke Gasib. Ia tidak ingin menghianati negerinya. “Maaf, Tuan! Sebenarnya saya tidak tahu seluk-beluk negeri ini,” jawab pemuda itu. Merasa dibohongi, pengawal Raja Aceh tiba-tiba menghajar pemuda itu hingga babak belur. Karena tidak tahan dengan siksaan yang diterimanya, pemuda itu terpaksa memberi petunjuk jalan darat menuju ke arah Gasib.
Berkat petunjuk pemuda itu, maka sampailah prajurit Aceh di negeri Gasib tanpa sepengetahuan Panglima Gimpam dan anak buahnya. Pada saat prajurit Aceh memasuki negeri Gasib, mereka mulai menyerang penduduk. Raja Gasib yang sedang bercengkerama dengan keluarga istana tidak mengetahui jika musuhnya telah memporak-porandakan kampung dan penduduknya. Ketika prajurit Aceh menyerbu halaman istana, barulah Raja Gasib sadar, namun perintah untuk melawan sudah terlambat. Semua pengawal yang tidak sempat mengadakan perlawanan telah tewas di ujung rencong (senjata khas Aceh) prajurit Aceh. Dalam sekejap, istana berhasil dikuasai oleh prajurit Aceh. Raja Gasib tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menyaksikan para pengawalnya tewas satu-persatu dibantai oleh prajurit Aceh. Putri Kaca Mayang yang cantik jelita itu pun berhasil mereka bawa lari.
Panglima Gimpam yang mendapat laporan bahwa istana telah dikuasai prajurit Aceh, ia bersama pasukannya segera kembali ke istana. Ia melihat mayat-mayat bergelimpangan bersimbah darah. Panglima Gimpam sangat marah dan bersumpah untuk membalas kekalahan Kerajaan Gasib dan berjanji akan membawa kembali Putri Kaca Mayang ke istana.
Pada saat itu pula Panglima Gimpam berangkat ke Aceh untuk menunaikan sumpahnya. Dengan kesaktiannya, tak berapa lama sampailah Panglima Gimpam di Aceh. Prajurit Aceh telah mempersiapkan diri menyambut kedatangannya. Mereka telah menyiapkan dua ekor gajah yang besar untuk menghadang Panglima Gimpam di gerbang istana. Ketika Panglima Gimpam tiba di gerbang istana, ia melompat ke punggung gajah besar itu. Dengan kesaktian dan keberaniannya, dibawanya kedua gajah yang telah dijinakkan itu ke istana untuk diserahkan kepada Raja Aceh.
Raja Aceh sangat terkejut dan takjub melihat keberanian dan kesaktian Panglima Gimpam menjinakkan gajah yang telah dipersiapkan untuk membunuhnya. Akhirnya Raja Aceh mengakui kesaktian Panglima Gimpam dan diserahkannya Putri Kaca Mayang untuk dibawa kembali ke istana Gasib.
Setelah itu, Panglima Gimpam segera membawa Putri Kaca Mayang yang sedang sakit itu ke Gasib. Dalam perjalanan pulang, penyakit sang Putri semakin parah. Angin yang begitu kencang membuat sang Putri susah untuk bernapas. Sesampainya di Sungai Kuantan, Putri Kaca Mayang meminta kepada Panglima Gimpam untuk berhenti sejenak. “Panglima! Aku sudah tidak kuat lagi menahan sakit ini. Tolong sampaikan salam dan permohonan maafku kepada keluargaku di istina Gasib,” ucap sang Putri dengan suara serak. Belum sempat Panglima Gimpam berkata apa-apa, sang Putri pun menghembuskan nafas terakhirnya. Panglima Gimpam merasa bersalah sekali, karena ia tidak berhasil membawa sang Putri ke istana dalam keadaan hidup. Dengan diliputi rasa duka yang mendalam, Panglima Gimpam melanjutkan perjalanannya dengan membawa jenazah Putri Kaca Mayang ke hadapan Raja Gasib.
Sesampainya di istana Gasib, kedatangan Panglima Gimpam yang membawa jenazah sang Putri itu disambut oleh keluarga istana dengan perasaan sedih. Seluruh istana dan penduduk negeri Gasib ikut berkabung. Tanpa menunggu lama-lama, jenazah Putri Kaca Mayang segera dimakamkan di Gasib. Sejak kehilangan putrinya, Raja Gasib sangat sedih dan kesepian. Semakin hari kesedihan Raja Gasib semakin dalam. Untuk menghilangkan bayangan putri yang amat dicintainya itu, Raja Gasib memutuskan untuk meninggalkan istana dan menyepi ke Gunung Ledang, Malaka.
Untuk sementara waktu, pemerintahan kerajaan Gasib dipegang oleh Panglima Gimpam. Namun, tak berapa lama, Panglima Gimpam pun berniat untuk meninggalkan kerajaan itu. Sifatnya yang setia, membuat Panglima Gimpam tidak ingin menikmati kesenangan di atas kesedihan dan penderitaan orang lain. Ia pun tidak mau mengambil milik orang lain walaupun kesempatan itu ada di depannya.
Akhirnya, atas kehendaknya sendiri, Panglima Gimpam berangkat meninggalkan Gasib dan membuka sebuah perkampungan baru, yang dinamakan Pekanbaru. Hingga kini, nama itu dipakai untuk menyebut nama ibukota Provinsi Riau yaitu Kota Pekanbaru. Sementara, makam Panglima Gimpam masih dapat kita saksikan di Hulu Sail, sekitar 20 km dari kota Pekanbaru.
* * *
Cerita rakyat di atas tidak hanya mengandung nilai-nilai sejarah, tetapi juga mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai moral tersebut adalah sifat setia dan tidak mau mengambil sesuatu yang bukan haknya. Kedua sifat tersebut tercermin pada sifat Panglima Gimpam. Kesetiaan Panglima Gimpam ditunjukkan pada sifatnya yang tidak mau bersenang-senang di atas penderitaan rajanya, Raja Gasib. Ia tidak mau menikmati segala kesenangan dan kemewahan yang ada dalam istana,  sementara rajanya hidup menderita dan dirundung perasaan sedih, karena ditinggal mati oleh putri tercintanya. Di samping itu, Panglima Gimpam juga merasa bahwa ia tidak berhak untuk menikmati segala kemewahan itu, karena bukan hak miliknya.
Dalam kehidupan orang Melayu, hak dan milik, baik dimiliki pribadi, masyarakat, atau penguasa sangatlah dijunjung tinggi. Orang tua-tua Melayu mengatakan, “yang hak berpunya, yang milik bertuan.” Dalam ungkapan adat juga disebutkan, “hak orang kita pandang, milik orang kita kenang, pusaka orang kita sandang,” yang maksudnya adalah hak dan milik orang wajib dipandang, dikenang, dipelihara, dihormati, dan dijunjung tinggi. Merampas dan menguasai hak milik orang secara tidak halal atau tidak sah, oleh orang tua-tua Melayu dianggap sebagai perbuatan terkutuk dan diyakini akan dilaknat oleh Allah SWT. Hal ini sesuai dengan ungkapan adat Melayu yang mengatakan:
apa tanda orang terkutuk,
mengambil milik orang lain ia kemaruk
apa tanda orang celaka,
mengambil hak orang lain semena-mena
Orang tua-tua Melayu juga senantiasa mengingatkan kepada anak kemenakan ataupun anggota masyarakatnya, agar tidak menuruti hawa nafsu, menjauhkan sifat loba dan tamak terhadap harta. Kalaupun memiliki harta benda, hendaknya dipelihara dengan baik dan benar supaya dapat memberikan manfaat bagi kehidupan di dunia dan di akhirat. Tennas Effendy dalam bukunya “Tunjuk Ajar Melayu” banyak menyebutkan tentang kemuliaan memelihara dan memanfaatkan hak milik, baik dalam bentuk ungkapan, syair, maupun pantun. Dalam bentuk ungkapan di antarnya:
apa tanda Melayu jati,
hak miliknya ia cermati
hak milik orang lain ia hormati
apa tanda Melayu jati,
memanfaatkan hak milik berhati-hati
apa tanda Melayu bertuah,
hak milik orang ia pelihara
hak milik diri ia jaga
hak milik bersama ia bela
Dalam untaian syair dikatakan:
wahai ananda buda berpesan,
harta orang engkau haramkan
milik orang engkau peliharakan
hak orang engkau muliakan
Dalam untaian pantun juga dikatakan:
buah barangan masak setangkai
patah tangkai jatuh ke tanah
harta orang jangan kau pakai
salah memakai masuk pelimbah
(SM/sas/27/9-07)
Read More..

Cerita Rakyat Riau - Dang Gedunai, Asal Mula Naga di Laut Lepas

Benarkah “naga” itu ada di dunia ini? Pertanyaan ini memang sulit untuk dijawab. Banyak yang mengatakan bahwa keberadaan naga itu hanya merupakan hasil imajinasi manusia. Adapula yang mengatakan, naga itu hanya ada dalam legenda, tidak pernah ada dalam kenyataan. Namun, tak jarang pula yang memercayai bahwa naga itu pernah ada di dunia ini. Bahkan, selama ribuan tahun, masyarakat Cina menganggap, mereka adalah keturunan naga. Konon, anggapan ini berasal dari dongeng dan totem (binatang yang disucikan dan disembah) zaman dahulu kala. Dalam legenda itu, diceritakan bahwa sebelum Huang Di berhasil menyatukan bagian tengah Tiongkok, totemnya adalah beruang. Setelah mengalahkan Chiyou dan menyatukan Tiongkok, Huang Di mengganti totem lama menjadi totem baru yaitu totem naga. Sejak naga menjadi totem nenek moyang mereka, bangsa Tionghoa (masyarakat Cina) pun berhubungan erat dengan naga, sehingga di kalangan masyarakat muncul banyak dongeng tentang kelahiran nenek moyang mereka. Dongeng tersebut di antaranya Yan Di, Huang Di dan Yao. Dari dongeng inilah, bangsa Tionghoa berkeyakinan bahwa nenek moyang mereka merupakan keturunan “naga”.
Naga memang makhluk yang masih misterius. Hingga kini, makhluk misterius ini hanya dapat dilihat melalui gambar, lukisan, foto-foto, maupun dalam bentuk visual. Penyimbolan terhadap naga ini hampir merata di seluruh dunia. Naga disimbolkan sebagai ular yang besar dengan wajah garang, memiliki sepasang sayap dan kaki dengan cakar-cakarnya yang tajam. Namun, di Asia dan Amerika Latin, naga disimbolkan tidak memiliki sayap. Selain simbol dalam bentuk konkret (fisik), naga juga disimbolkan dalam bentuk abstrak. Di kalangan bangsa Tionghoa, naga dipercaya sebagai suatu simbol keberuntungan dan kebajikan. Selain itu, mereka juga meyakini bahwa naga adalah sumber kekuatan magis yang mampu mengontrol angin, hujan, dan gerak alam raya. Bahkan, mereka meyakini bahwa naga merupakan penghubung antara manusia dengan para dewa di surga dan neraka. Jadi, jangan heran jika naga adalah shio terkuat dan paling beruntung dalam zodiak atau astrologi Cina.
Simbol-simbol yang dilekatkan pada naga tersebut menunjukkan betapa besar kekuasaan naga itu. Sampai-sampai kaisar pertama yang menyatukan daratan Cina, Chin Sin Huang Ti atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Kaisar Kuning”, oleh rakyatnya diberi gelar sebagai “Sang Putra Naga”. Ia dianggap memiliki kekuatan abstrak seperti yang disimbolkan pada naga. Dengan kekuataan itu, ia mampu menaklukkan empat negara yang semuanya masuk dalam wilayah kekuasaannya. Sebagai simbol kekuasaan, singgasananya yang terbuat dari batu giok diberi profil seekor naga yang sedang mengejar bola mustika. Demikianlah, simbol-simbol tentang keberadaan dan kekuasaan naga dalam bangsa Tionghoa.
Pertanyaannya adalah dari mana asal-mula naga itu? Jika bangsa Tionghoa dapat mengetahui tentang keberadaan naga tersebut melalui legenda, masyarakat Indragiri Hulu, Propinsi Riau, Indonesia, juga demikian adanya. Bahkan masyarakat Indragiri juga mengetahui tentang asal-mula naga tersebut yang dikaitkan dengan sebuah cerita rakyat yang dikenal dengan Dang Gedunai. Dalam cerita ini, dikisahkan tentang seorang anak laki-laki yang durhaka terhadap ibunya. Orang-orang di sekitarnya memanggilnya Dang Gedunai. Bagaimana Dang Gedunai bisa durhaka terhadap ibunya? Lalu, apa yang akan terjadi pada diri Dang Gedunai? Ikuti kisahnya dalam cerita Dang Gedunai: Asal-Mula Naga di Laut Lepas berikut ini.
* * *
Alkisah, pada zaman dahulu kala di daerah Riau tersebutlah seorang anak laki-laki yang bernama Dang Gedunai. Ia adalah anak yang keras kepala. Ia selalu mengikuti kemauannya sendiri dan tidak mau mendengarkan perkataan orang lain.
Pada suatu hari, Dang Gedunai ikut menangguk ikan bersama orang-orang di sungai. Saat orang-orang mendapat ikan, ia justru mendapatkan sebutir telur. “Dang Gedunai! Oo... Dang Gedunai, telur apakah yang kau dapatkan itu?” tanya orang-orang mengejeknya. “Telur badak”, jawab Dang Gedunai singkat.
“Badak tidak bertelur, Dang Gedunai. Badak itu beranak. Satu anaknya,” kata seorang. “Hei Dang Gedunai, lebih baik jangan kau bawa telur itu,” kata orang lain menasihatinya. “Tapi saya suka telur ini,” bantah Dang Gedunai sambil memeluk telur raksasa itu. “Lihatlah, ukurannya besar, bentuknya juga bulat lonjong, licin, dan bersih berkilat-kilat. Kalian tidak bisa melarang aku membawa telur ini. Kalau telur ini aku tinggalkan, pasti kalian yang akan mengambilnya,” ujar Dang Gedunai.
Setiba di rumah, Dang Gedunai disambut oleh emaknya. “Telur apakah itu, Dang Gedunai?” tanya Emak Dang Gedunai. “Telur badak, Mak,” jawab Dang Gedunai. “Badak tidak bertelur, anakku. Badak itu beranak satu,” jelas Emak Gedunai. Karena telur raksasa itu bentuknya unik, Emak Gedunai penasaran ingin mengetahuinya. Ia pun memerhatikan telur itu dengan seksama. Tiba-tiba Emak Gedunai tersentak kaget. “Astaga, ini telur naga! Kau jangan sekali-sekali bermain-main dengan telur ini, apalagi memakannya. Kau bisa celaka, Annakku! Kembalikan telur naga itu ke sungai,” perintah Emak Gedunai.
“Mana mungkin naga datang ke sungai itu? Ini bukan telur naga, Mak. Saya tidak mau mengembalikan telur ini ke sungai. Saya akan memakannya,” bantah Dang Gedunai. Ia pun menyimpan telur itu baik-baik. Setiap hari Emak Gedunai selalu memperingatkan anaknya agar tidak memakan telur itu, setiap hari pula Dang Gudanai bertekad akan menyantap telur itu suatu saat nanti.
Suatu pagi, Emak Gedunai mengajak Dang Gedunai pergi ke ladang, tetapi Dang Gedunai menolak dengan alasan sakit. Sebenarnya ia tidak sakit, ia hanya mencari kesempatan agar bisa memakan telur tanpa diketahui emaknya. Ketika emaknya berangkat ke ladang, Dang Gedunai segera merebus telur itu dan memakannya. Ia tampak lahap sekali, sehingga telur itu habis semua ditelannya. “Mmm...enak sekali rasanya,” kata Dang Gedunai dengan perasaan puas. “Besok aku akan ke sungai mencari telur lagi,” gumam Dang Gedunai.
Beberapa saat setelah memakan telur itu, tiba-tiba Dang Gedunai merasa sangat mengantuk. Maka, ia pun merebahkan tubuhnya di balai-balai. Dalam sekejap, ia sudah tertidur pulas. Dalam tidurnya, Dang Gedunai bermimpi didatangi seekor naga betina yang sangat besar sedang mencari telurnya yang hilang di sungai. “Hai, Anak Muda! Kamu telah mengambil telurku di sungai dan memakannya. Siapapun yang memakan telurku, maka ia akan menjelma naga sebagai pengganti anakku”. Setelah mendengar suara itu, Dang Gedunai terbangun ketakutan. Tubuhnya bermandikan keringat dan tenggorokannya kering. Dia merasa sangat haus.
Menjelang sore, Emak Dang Gedunai pulang dari ladang. Dia melihat anaknya sedang gelisah. Dang Gedunai hilir mudik ke sana ke mari mencari air. Tampaknya dia sangat kehausan. Lidahnya terjulur-julur. Semua air dalam dandang dan tempayan telah diminumnya, tetapi dia masih kehausan. Kerongkongannya bagaikan terbakar.
“Tolong ambilkan air, Mak! Saya haus sekali,” pinta Dang Gedunai pada emaknya. “Apa yang terjadi denganmu, Anakku!” tanya emaknya penasaran. “Sudahlah, Mak!” Cepatlah ambilkan air, kerongkonganku terasa panas sekali,” desak Dang Gedunai kepada emaknya. Sekarang emaknya sudah tahu kalau Dang Gedunai telah memakan telur naga itu. Segera diberinya segayung air kepada anaknya. Sekali teguk, air itupun langsung habis. Lalu, diberinya setempayan, habis pula ditenggak Dang Gedunai. Emaknya sudah kehabisan akal. Semua air telah habis di rumahnya.
Dang Gedunai masih saja kehausan. Dia pun berlari keluar dari rumahnya dan berteriak-teriak meminta air. “Ambilkan saya air! Saya haus sekali!” ratap Dang Gedunai pada orang-orang yang lewat di depan rumahnya. Orang-orang membantu memberikan air yang mereka punya. Tapi rasa haus Dang Gedunai tak reda juga. Dang Gedunai kemudian pergi ke perigi (telaga) meminum habis airnya. Emaknya yang kebingungan lalu membawa Dang Gedunai ke danau. Kering pula air danau dihirupnya. Akhirnya emaknya membawa Dang Gedunai ke sungai.
Sesampai di sungai, Dang Gedunai berkata kepada emaknya, “Mak, saya akan menghiliri sungai ini hingga ke laut lepas. Saya akan menjelma menjadi naga, Dang Gedunai namanya.” Itulah kata-kata terakhir Dang Gedunai kepada emaknya. “Dang Gedunai, Anakku? Bukankah emak telah melarangmu, Nak? Kau langgar tegahanku, dan inilah akibatnya,” kata Emak Dang Gedunai meratap, menyesali perbuatan anaknya.
Dang Gedunai telah hilang di laut lepas. Emak Dang Gedunai tak mau beranjak dari tepi laut. Dia terus menangis dan meratapi anaknya itu siang dan malam hingga airmatanya kering. Dia terus menunggu dan berharap Dang Gedunai muncul kembali.
Beberapa waktu kemudian, tampak air laut bergelombang datang memecah pantai. Seekor naga muncul ke permukaan air, mengeluarkan suara yang mirip dengan suara Dang Gedunai, “Mak, saya sudah menjadi naga. Tempat tinggalku sekarang di laut. Kalau Mak rindu kepadaku, pandanglah laut lepas. Gelombang yang datang ke pantai itu adalah jejak langkahku. Jika laut tenang, berarti saya sedang tidur. Tetapi jika laut bergelombang besar, berarti saya sedang mencari makan.”
“Dang Gedunai, Anakku …. Mohon ampunlah pada Tuhan karena telah membantah kata-kata emakmu ini. Walaupun kau telah menjadi naga, emakmu tetap menyayangimu, Nak,” Emak Dang Gedunai berseru sambil berusaha menggapai naga itu. Namun, dalam sekejap naga itu lenyap, tinggal gelombang-gelombang kecil yang memecah pantai.
Sejak peritiwa itu, para nelayan tidak berani turun melaut jika gelombang bergulung-gulung besar, karena itu berarti Dang Gedunai sedang mencari makan. Karena tubuhnya yang besar, dia memerlukan banyak makanan dan akan melahap apa saja yang ada di laut. Jika air tenang, para nelayan dapat melaut dengan aman, dan menangkap sisa-sisa ikan yang tidak termakan oleh Dang Gedunai.
* * *
Dalam cerita di atas, terdapat nilai-nilai moral yang patut dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai moral tersebut di antaranya sifat keras kepala dan sifat kasih sayang. Sifat keras kepala tercermin pada sifat Dang Gedunai yang tidak mau mendengar nasihat ibunya, agar tidak memakan telur naga yang didapatnya di sungai. Karena sifat keras kepalanya itu, Dang Gedunai mendapat ganjaran atas perbuatannya yaitu menjadi seekor naga.
Sifat keras kepala adalah sifat tidak mau menerima kebenaran. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat keras kepala adalah sangat dipantangkan. Meskipun demikian, orang tua-tua Melayu tidak serta-merta menegur dan menasihati anggota masyarakatnya dengan kata-kata yang kasar. Dalam memberikan nasihat, petuah atau “tunjuk ajar‘, orang tua-tua Melayu melakukannya dengan arif dan bijaksana, agar tidak menyinggung perasaan yang mendengarnya. Biasanya, mereka menggunakan sindiran-sindiran dengan bahasa yang terpilih, halus, dan mengandung nilai-nilai luhur yang dapat menyadarkan orang dari kekeliruannya tanpa melukai perasaannya. Tennas Effendy dalam bukunya “Ejekan” terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau, menyebutkan sejumlah sindiran-sindiran mengenai sifat keras kepala dalam bentuk ungkapan-ungkapan seperti berikut:
kalau tak mau mendengar nasehat,
alamat celaka dunia akhirat
kalau tak mau mendengar petuah orang,
martabat habis, marwah pun hilang
tanda orang tidak semenggah,
diberi nasihat menyanggah
Selain itu, dalam ajaran Islam juga disebutkan bahwa sifat keras kepala merupakan sifat yang tercela. Sifat keras kepala dapat diartikan sebagai orang yang tidak mau mendengar nasihat orang lain, termasuk nasihat orang tua. Bagi orang yang tidak mau mendengar nasihat orang tua, ia adalah anak yang durhaka. Sebagaimana yang terjadi pada Dang Gedunai dalam cerita di atas. Karena keras kepala, ia tidak menghiraukan nasihat emaknya untuk tidak memakan telur naga itu, maka akibatnya, ia menjelma menjadi naga. Karena besarnya akibat yang ditimbulkan dari sifat keras kepala, yakni membuat seseorang menjadi durhaka, maka Nabi Muhammad SAW memperingatkan dalam sebuah hadisnya yang berbunyi, “Bukankah aku telah memberitahu kamu tentang ahli-ahli neraka? Mereka itu ialah orang-orang yang keras kepala, sombong, suka mengumpul harta, tetapi tidak suka membelanjakannya untuk kebaikan” (H.R.Bukhari Muslim). Karena sifat keras kepala ini adalah sifat tercela dan dipantangkan oleh tua-tua Melayu, sifat ini tidak dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai moral lain yang terkandung di dalam cerita di atas adalah sifat kasih sayang. Sifat ini tercermin pada sifat Emak Dang Gedunai yang sangat sayang terhadap Dang Gedunai, meskipun anaknya itu telah menjadi seekor naga. Kasih sayang adalah sifat terpuji yang dijunjung tinggi dalam kehidupan orang Melayu. Bagi mereka, berkasih sayang tidak hanya terbatas dalam ruang lingkup keluarga dan kaum kerabat, tetapi juga dalam bersahabat dan bermasyarakat. Orang tua-tua Melayu memberi petunjuk bahwa hidup terpuji dan hidup mulia adalah hidup dengan berkasih sayang antar sesama, tanpa membedakan suku, bangsa, kedudukan, pangkat, kekayaan, dan sebagainya. Oleh karena itu, sejak dini mereka mulai menanamkan rasa kasih sayang di dalam lingkungan keluarga, handai taulan, saudara-mara, masyarakat dan bangsa. Mereka mengajarkan anak-anaknya tentang kelebihan hidup berkasih sayang dengan menunjukkan contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Keutamaan sifat berkasih sayang ini banyak dipaparkan oleh Tennas Effendy dalam bukunya “Tunjuk Ajar Melayu” baik dalam bentuk ungkapan, syair maupun untaian pantun Melayu.
Keutamaan sifat kasih sayang dalam bentuk ungkapan di antaranya:
apa tanda Melayu jati,
kasih sayang sampai mati
apa tanda Melayu bertuah,
berkasih sayang sesama manusia
apa tanda Melayu beradat,
berkasih sayang menjadi sifat
Dalam bentuk untaian syair dikatakan:
wahai ananda intan dikarang,
hiduplah engkau berkasih sayang
janganlah suka memusuhi orang
sifat yang buruk hendaklah buang
wahai ananda tambatan hati,
hiduplah engkau kasih mengasihi
silang sengketa engkau jauhi
supaya hidupmu diberkahi Ilahi
Dalam bentuk untaian pantun dikatakan:
kalau kuncup sudah mengembang
banyaklah kumbang datang menyeri
kalau hidup berkasih sayang
hidup tenang makmurlah negeri
banyaklah benih di sudut ladang
benih berkembang buahnya lebat
banyaklah kasih disebut orang
berkasih sayang membawa rahmat
Read More..

Cerita Rakyat Riau - Ketobong Keramat

Ketobong atau yang sering juga disebut dengan kendang (gendang) adalah salah satu alat musik tradisional yang terdapat di Kabupaten Pelalawan, Propinsi Riau, Indonesia. Saat ini, alat musik tersebut sudah jarang ditemukan, karena bahan baku pembuatannya semakin langka. Bahan dari alat musik tradisional ini adalah kulit kayu khusus, yang hanya bisa diperoleh di daerah Sorek, Kabupaten Pelalawan. Kulit kayu tersebut semakin sulit diperoleh akibat penebangan hutan secara besar-besaran di daerah itu. Alat musik ini merupakan warisan budaya Melayu Riau yang sangat berharga dan perlu dipelihara dan dikembangkan, karena ia memiliki fungsi dan nilai yang sangat penting bagi masyarakat setempat. Konon pada zaman dahulu, ketobong tidak hanya berfungsi sebagai alat hiburan, melainkan juga berfungsi untuk menyembuhkan orang sakit. Para bomo  sering menggunakan ketobong sebagai alat untuk mengobati orang sakit. Pada saat itu, ketobong yang mereka gunakan bukanlah ketobong sembarangan, melainkan ketobong yang memiliki nilai-nilai magis yaitu kekuatan sakti.
Di daerah Pelalawan, tepatnya di hulu Sungai Selempayan, pernah terjadi suatu peristiwa ajaib yang dikenal dengan Ketobong Keramat. Dikatakan ketobong keramat, karena jika terjadi hujan panas terdengar suara ketobong di sungai itu. Oleh karena itu, mereka yang tinggal di sekitar daerah itu menganggap bahwa Sungai Selempayan termasuk sungai yang berpuaka (berhantu). Mereka memercayai bahwa sungai itu dijaga oleh orang bunian, yang bernama Bomo Sakti. Sekali-sekali ia menjelma menjadi manusia. Keberadaan orang hunian di Sungai Selempayan itu dikaitkan dengan sebuah cerita rakyat yang sampai saat ini masih hidup di kalangan masyarakat Pelalawan yang dikenal dengan cerita Ketobong Keramat. Dalam cerita ini dikisahkan seorang bomo yang hidup miskin dan suka menolong, yang bernama Bomo Sakti. Meskipun telah banyak menyembuhkan orang sakit, ia tidak pernah meminta bayaran sedikit pun. Suatu hari, berita kepandaiannya mengobati orang sakit sampai ke telinga raja Pelalawan yang memerintah saat itu. Maka diangkatlah ia menjadi bomo resmi kerajaan. Sebagai seorang bomo, ia hanya boleh mengobati orang yang sakit. Ia tidak boleh mengobati orang yang sehat, apalagi menghidupkan orang yang sudah meninggal dunia. Jika ia melanggar larangan dari gurunya itu, maka hidupnya akan teraniaya. Suatu ketika, Bomo Sakti diminta oleh Baginda Raja untuk menghidupkan kembali putrinya yang meninggal dunia. Bersediakah Bomo Sakti memenuhi titah Baginda Raja? Lalu, apa yang akan terjadi pada Bomo Sakti jika ia melanggar larangan gurunya itu? Ikuti kisahnya dalam cerita Ketobong Keramat berikut ini.
* * *
Alkisah pada zaman dahulu kala, di negeri Pelalawan berkuasalah seorang raja yang dikenal sebagai Raja Pelalawan. Penduduknya hidup tenteram, sejahtera dan rukun. Namun, di antara penduduk tersebut, terdapat seorang laki-laki setengah baya yang hidup sangat miskin. Meskipun miskin, ia gemar menolong orang lain. Setiap hari ia pergi menajuh di Sungai Selempaya yang mengalir di negeri itu. Dari hasil menangkap ikan itulah ia bisa menghidupi istri dan anak-anaknya.
Selain menangkap ikan, si Miskin itu memiliki kepandaian mengobati orang sakit. Kepandaiannya itu ia gunakan untuk menolong setiap orang yang datang kepadanya. Karena ia suka menolong orang sakit, maka ia pun dipanggil Bomo Sakti (Tabib Sakti). Ia sangat pandai mengambil hati masyarakat. Jika ada orang membutuhkan pertolongannya, ia tidak pernah menolak. Selain itu, ia juga tidak pernah meminta bayaran atas bantuan yang telah diberikannya. Sifatnya yang rendah hati itu, membuat masyarakat di negeri Pelalawan senang kepadanya. Berbeda dengan bomo-bomo lainnya, mereka memiliki sifat angkuh. Untuk setiap obat yang diberikan kepada orang sakit, ia selalu meminta bayaran yang sangat tinggi dan selalu menolak apabila dimintai pertolongannya oleh orang miskin.
Suatu hari, kepandaian Bomo Sakti mengobati orang sakit itu terdengar oleh Raja Pelalawan. Maka diutuslah dua orang pengawal istana untuk menjemput Bomo Sakti untuk dibawa ke istana. Sesampainya di hadapan raja, Bomo Sakti langsung memberi hormat, “Ampun Baginda Raja! Ada apa gerangan Baginda memanggil saya menghadap?” tanya Bomo Sakti penasaran. “Wahai Bomo Sakti! Aku sudah mendengar tentang kepandaian kamu mengobati orang sakit. Bersediakah kamu aku angkat menjadi bomo di istana ini?” tanya Baginda Raja kembali. “Ampun beribu ampun, Baginda! Saya ini hanya orang miskin dan bodoh. Tuhanlah yang menyembuhkan mereka, saya hanya berusaha melakukannya,” jawab Bomo Sakti merendah. Baginda Raja pun mengerti kalau Bomo Sakti menerima tawarannya itu dengan bahasa yang sangat halus. Akhirnya, Bomo Sakti pun diangkat menjadi bomo resmi di Kerajaan Pelalawan. Sejak itu, Bomo Sakti semakin terkenal hingga ke berbagai negeri. Kehidupan keluarganya berangsur-angsur menjadi makmur. Meskipun namanya sudah terkenal di mana-mana, Bomo Sakti tetap bersikap rendah hati. Ia masih mengerjakan pekerjaannya yang dulu yaitu pergi menangkap ikan di sungai Selempaya.
Suatu waktu, Baginda Raja memanggil Bomo Sakti menghadap kepadanya. Setelah Bomo Sakti menghadap, Baginda Raja pun berkata, “Wahai Bomo Sakti, sudah lama aku menginginkan anak. Aku sudah mendatangkan bomo dari berbagai negeri, namun belum ada yang berhasil. Untuk membuktikan kesetiaanmu padaku, aku berharap kamu mau mengobati permaisuriku agar kami bisa mendapatkan keturunan,” pinta Raja Pelalawan dengan penuh harapan. Karena permintaan raja, Bomo Sakti tidak bisa menolak. “Hamba akan berusaha, Baginda! Semoga Tuhan Yang Mahakuasa mengabulkan keinginan Baginda,” jawab Bomo Sakti dengan rendah hati.
Setelah itu, Bomo Sakti pun mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Dengan takdir Tuhan Yang Mahakuasa, usahanya berhasil. Beberapa hari setelah diobati, permaisuri pun mengandung. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, genaplah 9 bulan kandungan permaisuri. Maka lahirlah seorang putri yang cantik jelita. Sejak itu, semakin masyhurlah nama bomo yang sakti itu. Raja dan permaisuri serta seluruh penduduk negeri Pelalawan sangat senang dan gembira menyambut kelahiran sang Putri kecil yang cantik itu. Akan tetapi, Bomo Sakti yang telah berhasil mengobati sang permaisuri justru merasa menyesal, karena telah melanggar larangan yang pernah ditetapkan oleh gurunya. Larangan tersebut adalah ia tidak dibenarkan mengobati orang yang sehat dan orang yang sudah mati. Jika ia melanggar larangan itu, hidupnya akan teraniaya. Jika berladang, padinya takkan berisi. Jika mencari ikan, takkan dapat. Jika berlayar, angin berhenti. Jika beternak, takkan berkembang biak. Oleh karena itu, ia berniat untuk berhenti menjadi bomo. Akan tetapi, jika ia berhenti begitu saja, tentu Baginda Raja akan murka kepadanya. Ia pun kemudian mencari akal bagaimana caranya agar ia bisa berhenti menjadi bomo tanpa membuat Baginda Raja merasa kecewa.
Setelah beberapa lama berpikir, Bomo Sakti pun menemukan cara yang baik. Keesokan harinya, ia mengutarakan isi hatinya kepada Raja Pelalawan. “Ampun, Baginda Raja! Bukannya hamba tidak hormat terhadap titah Baginda. Tadi malam hamba bermimpi bertemu dengan seorang kakek. Ia menyuruh hamba  berhenti menjadi bomo. Jika hamba tidak menuruti perkataan kakek itu, maka keluarga hamba akan teraniaya,” cerita Bomo Sakti pada Raja. Mendengar cerita Bomo Sakti, Baginda Raja bisa memakluminya. “Baiklah, Bomo Sakti. Aku rela kamu berhenti menjadi bomo kerajaan ini,” jawab Baginda Raja tersenyum. Sejak saat itu, Bomo Sakti resmi berhenti menjadi bomo. Penduduk negeri pun tidak lagi datang untuk meminta bantuannya. Bomo Sakti kembali menjalani hidupnya sebagai penajuh untuk menghidupi keluarganya.
Seiring dengan berjalannya waktu, sang Putri pun sudah berumur lima belas tahun. Sebagai anak satu-satunya, sang Putri sangat disayangi oleh Baginda Raja dan permaisuri. Ke mana pun ia pergi selalu dikawal oleh puluhan dayang-dayang. Suatu hari, sang Putri jatuh sakit keras. Penyakitnya semakin hari semakin parah. Sudah puluhan bomo didatangkan dari berbagai negeri, namun belum ada seorang pun yang bisa menyembuhkan sang Putri. Baginda raja dan permaisuri semakin cemas melihat kondisi putrinya yang semakin lemas. Dalam suasana cemas itu, tiba-tiba Baginda Raja teringat dengan Bomo Sakti yang pernah dilantiknya sebagai bomo resmi kerajaan lima belas tahun yang lalu. Maka diperintahkannya beberapa pengawal untuk mencari Bomo Sakti itu. Sudah berhari-hari pengawal istana mencari Bomo Sakti, namun tak kunjung mereka temukan. Karena terlalu lama menahan sakit, akhirnya dengan kehendak Tuhan Yang Mahakuasa, meninggallah Putri Kerajaan Pelalawan tersebut. Tersebarlah berita kematian sang Putri hingga ke seluruh pelosok Negeri Pelalawan. Baginda Raja sangat sedih dan menyesal, karena Bomo Sakti yang sangat diharapkan untuk menyembuhkan putrinya tidak pernah datang.
Melihat putri tunggalnya telah meninggal, Baginda Raja segera mengutus beberapa pengawal untuk mencari Bomo Sakti yang selama ini belum berhasil ditemukannya. Malam itu juga dengan susah payah pengawal istana berhasil menemukan Bomo Sakti di sebuah pondok dekat sungai Selempaya. Karena Baginda Raja yang memanggil, maka berangkatlah Bomo Sakti ke istana. Sesampainya di istana, Raja berkata, “Hai Bomo Sakti, hidupkanlah kembali putriku ini. Buktikanlah kesetiaanmu sekali lagi kepadaku. Jika kamu menolak permintaanku, maka kamu dan keluargamu akan aku pancung di depan orang ramai.” Mendengar ancaman Baginda Raja, Bomo Sakti pun menjadi ketakutan. Demi keselamatannya dan keluarganya, terpaksalah ia menuruti kehendak rajanya. Saat itu juga Bomo Sakti segera mempersiapkan perlengkapan untuk upacara pengobatan yang belum pernah dilakukannya.
Bomo Sakti mulai menyalakan puluhan lilin dan memasangnya di seluruh sudut istana. Kemudian membakar kemenyan hingga baunya menyebar ke seluruh ruangan. Semua yang hadir di tempat itu harus diam di tempat masing-masing. Sambil membaca doa, Bomo Sakti menepungtawari sang Putri yang sudah meninggal itu. Setelah itu, ia pun memukul ketobong sambil mengucapkan doa. Tubuhnya mulai mengeluarkan keringat, setiap kali ia memukul ketobongnya tampak ketobong itu seperti berapi-api. Setelah hampir dua jam lamanya ia memukul ketobongnya sambil membaca doa, selubung yang menutupi sang Putri tiba-tiba bergerak. Semua orang yang melihat kejadian itu sangat kagum bercampur rasa takut. Tak lama, terdengar sang Putri bersin. Kemudian sang Putri duduk, seolah-olah baru bangun tidur. Akhirnya, sang Putri pun hidup kembali.
Baginda Raja dan permaisuri sangat senang atas hidupnya kembali putri tunggalnya itu. Sebaliknya, Bomo Sakti merasa sangat menyesal menghidupkan kembali sang Putri. Ia pun segera kembali ke perahunya yang tertambat di tepi sungai. Sambil mengayuh perahunya meninggalkan Kerajaan Pelalawan, Bomo Sakti menangis karena telah melanggar larangan gurunya yang kedua kalinya. Tengah mengayuh perahunya, ia melihat pengawal istana sedang mengejarnya di belakang. Tak lama, ia mendengar suara teriakan dari arah perahu itu. “Hai Bomo Sakti! Tungguuu…tungguuu…! Baginda Raja memanggilmu kembali ke istana!” teriak seorang pengawal. Bomo Sakti terus saja mengayuh perahunya. Ia tidak menghiraukan suara teriakan itu.
Setelah sampai di muara sungai, perahu Bomo Sakti tiba-tiba berhenti. Tak lama kemudian, perahu pengawal pun menyusul dan mendekati perahu Bomo Sakti. Sebelum turun dari perahunya, Bomo Sakti berpesan kepada pengawal istana yang mengejarnya. “Hai Pengawal, sampaikan kepada rajamu, perintahnya telah saya laksanakan, hingga saya harus melanggar perintah guru saya. Saya bersumpah tidak akan menginjak bumi Pelalawan ini selagai saya masih hidup,” tegas Bomo Sakti kepada pengawal. Setelah itu, ketobong yang digunakan untuk menyembuhkan sang Putri dibuangnya ke dalam sungai. Ketika ketobong itu dibuang, tiba-tiba air sungai menjadi berombak. Pada saat itu pula, Bomo Sakti melompat ke darat sambil berteriak, “Jika kalian sampai di Pelalawan, sampaikan salamku kepada istri dan anak-anakku. Katakan kepadanya, jika mereka ingin bertemu denganku, suruh mereka datang ke Selempaya setiap hari Jumat pagi.” Setelah ia berpesan, tiba-tiba ombak kembali menjadi tenang. Namun, dari dalam air terdengar bunyi ketobong seperti dipukul orang. Bomo Sakti pun menghilang dan tak pernah kembali.
Sejak peristiwa itu, masyarakat setempat mempercayai bahwa Bomo Sakti masih hidup sebagai orang hunian (makhluk halus). Masyarakat yang menajuh di Sungai Selempaya sering melihatnya dalam wujud seperti manusia biasa. Konon, hingga kini apabila terjadi hujan panas, sering terdengar bunyi ketobong di sungai itu.
* * *
Cerita di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang memiliki nilai-nilai moral yang patut dijadikan sebagai pedoman. Nilai-nilai moral tersebut di antaranya sifat suka menolong, ikhlas, rendah hati dan rela berkorban,. Sifat-sifat tersebut tercermin pada perilaku Bomo Sakti. Ia gemar menolong orang yang membutuhkan pertolongannya, meskipun tidak diminta. Setiap orang yang ditolongnya, tidak pernah ia mintai bayaran sebagai imbalan atas bantuan yang ia berikan. Sifat kerendahan hatinya tergambar ketika orang-orang yang datang meminta bantuannya tidak pernah ditolaknya. Ia juga rela mengorbankan kepentingan keluarganya demi kepentingan rajanya. Selain sifat-sifat tersebut, cerita di atas juga mengandung sebuah nilai yang tidak baik untuk diteladani, yaitu sifat egois. Sifat ini tercermin pada perilaku Raja Pelalawan yang selalu memaksakan kehendaknya terhadap Bomo Sakti. Jika Bomo Sakti tidak melakukan permintaan sang Raja, ia dan keluarganya diancam akan dihukum pancung di depan khalayak ramai.
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Sebagian besar manusia yang hidup di dunia ini lebih mementingkan dirinya sendiri dari para orang lain. Orang yang memiliki sifat seperti ini, biasanya tidak suka menolong orang lain. Mereka umumnya egois, kikir alias tidak dermawan. Jika mereka memiliki harta benda yang melimpah dan pengetahuan yang tinggi, mereka tidak mau membagikannya kepada orang yang membutuhkannya. Kita bisa berpedoman sifat Bomo Sakti, meskipun hidup miskin, ia tetap saja dermawan. Namun, bukanlah harta yang ia berikan, melainkan pengetahuan atau kepandaiannya mengobati. Karena sifat kedermawanan tersebut, sehingga ia mendapat imbalan yang banyak yaitu diangkat menjadi bomo istana. Sejak itu, kehidupan ekonomi keluarganya menjadi makmur.
Dalam ajaran agama Islam disebutkan bahwa barang siapa yang suka menolong orang lain dengan ikhlas, niscaya dia akan ditolong oleh Allah SWT. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad SAW dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya. (Hadis Riwayat Muslim).
Pesan yang disampaikan dalam hadis di atas sangatlah mulia. Oleh karena itu, pesan tersebut perlu dicamkan dalam hati dengan baik-baik. Allah SWT akan senantiasa menolong orang yang suka menolong orang lain. Gemarlah menolong orang lain, Allah pun berkenan menolong kita. Allah berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Q.S. al-Baqarah: 214).
Bagi orang Melayu, menolong sesama manusia adalah kewajiban. Mereka menolong dengan kesadaran bahwa orang lain adalah saudara, sahabat, atau kerabatnya. Adat bersaudara, adat bersahabat atau adat berkerabat mewajibkan orang Melayu untuk berbuat kebajikan secara ikhlas dan mengorbankan apa saja secara suka rela tanpa mengharap imbalan. Kata orang-orang tua Melayu, orang yang memiliki keikhlasan menolong orang lain, setiap pekerjaannya akan diridhoi oleh Allah SWT. Dengan sifat ikhlas dan rela berkorban untuk menolong orang lain, rasa kesetikawanan akan semakin tinggi, mengakar dan membuahkan persaudaraan sejati.
Sikap ikhlas dan rela berkorban ini, banyak digambarkan dalam beberapa untaian ungkapan orang Melayu sebagai berikut:
apa tanda Melayu sejati,
tulus ikhlas di dalam hati
apa tanda Melayu sejati,
rela berkorban sampai mati
apa tanda orang Melayu sejati,
menolong orang dengan berputih hati
membantu dengan merendah diri
wahai ananda permata bunda,
tulus dan ikhlas terhadap saudara
berkorban engkau karena lillah
supaya hidupmu diberkahi Allah
(SM/sas/21/8-07)
Menajuh                       : menangkap ikan
Bomo bbsp;                          : tabib
Menepungtawari           : melakukan acara adat tepuk tepung tawar
Ketobong                      : sejenis gendang
* * *
Read More..

Popular Post