Cerita Rakyat

Kumpulan Cerita Rakyat , Legenda , Dongeng , Cerpen , Gurindam , Puisi Nusantara Indonesia Dari Sabang Sampai Marauke

Friday, April 17, 2015

Certa Rakyat Riau - Murid Durhaka

Daik Lingga merupakan Ibu Kota Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Kabupetan termuda di Indonesia yang dijuluki “Si Bungsu” ini juga disebut sebagai “Bunda Tanah Melayu.” Selain itu, Daik Lingga juga merupakan salah satu kota bersejarah di Indonesia. Dahulu, Daik pernah menjadi pusat kerajaan Riau-Lingga hampir seratus tahun lamanya. Selama periode itu, tercatat sejumlah raja yang pernah memerintah di kerajaan itu. Menurut catatan sejarah, raja-raja yang pernah memerintah di antaranya, Sultan Ambdurrahman Syah (1812-1832), Sultan Muhammad Syah (1832-1841), Sultan Muhammad Muzafar Syah (1841-1867), Sultan Badrul Alam Syah II (1857-1883), dan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah (1883-1911).
Menurut cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Daik Lingga bahwa kerajaan Daik Lingga masyhur pada saat tampuk kekuasaan dipegang oleh Sultan Abdurraham Muazzam Syah. Pada masa itu, daerah taklukannya amat luas. Rakyatnya hidup aman, tenteram, rajin bekerja, patu dan taat kepada rajanya. Jika terdengar beduk berbunyi, seluruh rakyat berbondong-bondong menuju istana untuk menerima perintah sang Raja untuk membangun negeri. Mereka sangat rajin bergotong-royong dan saling membantu dalam setiap pekerjaan, sehingga kota Daik tampak ramai dan maju dengan pesatnya. Konon, tidak jauh dari pusat kerajaan terdapat sebuah dusun yang bernama Panggak Darat. Di dusun ini tinggal seorang guru pencak silat bersama seorang muridnya. Sang Guru bernama Apek Huang Tai, sedangkan sang Murid bernama Mahmud. Mahmud adalah murid yang cerdas dan patuh kepada gurunya, sehingga gurunya, Apek Huang Tai, sangat sayang kepadanya. Tidak ada satu pun rahasia silat yang dimilikinya yang tidak diajarkan kepada Mahmud. Setelah habis semua ilmu silat itu diajarkan kepada Mahmud, Apek Huang Tai kemudian berpesan kepada murid kesayangannya itu, agar ilmu yang telah diterimanya itu tidak digunakan untuk melakukan perbuatan tidak baik. Mahmud harus lebih bersabar, tidak boleh menganiaya orang yang tidak berdaya. Sebagai pemilik kesaktian, tentu banyak godaan untuk melanggar yang akan dihadapi Mahmud. Mampukah si Mahmud menjaga amanah gurunya itu? Apa akibatnya jika Mahmud melanggar pesan sang Guru? Ingin tahu kisah selengkapnya? Ikuti cerita rakyat Murid Durhaka berikut ini!
* * * Alkisah, pada zaman dahulu di daerah Daik Lingga berdiri sebuah kerajaan yang bernama Daik-Lingga. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang sultan yang sangat arif dan bijaksana, Sultan Abdurrahman namanya. Seluruh rakyatnya hidup aman, tenteram, dan patuh kepadanya. Jika beduk berbunyi, seluruh rakyatnya berbondong-bondong ke istana untuk memenuhi panggilan sang Raja. Pada masa itu, tidak jauh dari pusat kerajaaan, ada sebuah dusun yang bernama Panggak Darat. Di dusun itu terdapat sebuah daerah perkebunan yang terletak di atas bukit yang bernama Bukit Tunggul Angus. Di bukit ini tinggallah seorang apek[1] yang bergelar Apek Huang Tai, yang berarti angin besar. Ia diberi gelar demikian karena kemahirannya dalam bermain pencak silat. Apek Huang Tai tidak hidup sendirian, ia ditemani oleh seorang muridnya yang bernama Mahmud. Mahmud adalah anak yang sangat cerdas, patuh dan taat kepada gurunya. Oleh karena itu, Apek Huang Tai sangat sayang kepadanya sama seperti kepada anak kandungnya sendiri. Walaupun dianggap seperti anak kandungnya sendiri oleh Apek, Mahmud tetap memanggil “Apek” kepadanya. Setelah beberapa lama berguru pada Apek Huang Tai, tamatlah pelajaran silat si Mahmud. Kini, Mahmud telah menjadi seorang pemuda yang perkasa. Semua rahasia silat yang dimiliki gurunya ia warisi. Tak satu pun rahasia jurus-jurus yang tidak diajarkan oleh Apek Huang Tai kepadanya. Sang Guru pun merasa senang karena semua rahasia ilmu silatnya ada yang meneruskan. Namun, sebelum Mahmud meninggalkannya, Apek Huang Tai berpesan kepada Mahmud murid kesayangannya itu: “Anakku, semua rahasia silat yang kumiliki telah kuajarkan kepadamu. Namun, perlu aku ingatkan bahwa ilmu yang kamu miliki saat ini janganlah kamu gunakan untuk hal-hal buruk. Janganlah kamu memukul atau menganiaya orang-orang yang sudah tidak berdaya. Tapi sebaliknya, hendaknya ilmu itu kamu gunakan untuk menolong yang lemah. Apabila ada orang yang berniat jahat ingin mencelakakanmu, maka bolehlah kamu gunakan ilmu silatmu. Aku rasa hanya itu pesanku kepadamu. Percayalah, Anakku! Jika kamu selalu mengingat pesanku ini, kamu akan selamat ke manapun kamu pergi. Akan tetapi, apabila kamu melanggar, maka kamu bisa celaka,” kata Apek Huang Tai kepada Mahmud.     “Iya, Pek! Mahmud akan mengikuti semua pesan-pesan Apek,” jawab Mahmud sambil memberi hormat kepada gurunya itu. “Pek, saya sangat berterima kasih kepada Apek, karena telah mengajari saya ilmu silat. Saya tidak bisa membalas budi baik Apek. Namun, hanya sekedar membalas budi baik Apek, saya mempunyai sebidang dusun durian peninggalan orang tua saya. Separuh dari dusun ini saya berikan kepada Apek untuk hidup sehari-hari. Apek kan sudah tua, jadi tidak perlu kerja keras lagi. Semoga Apek mau menerima pemberian ini sebagai ucapan terima kasih saya kepada Apek,” tambah Mahmud. Suasana perpisahan pun semakin haru. Dengan air mata berlinang, sang Guru menjawab dengan suara serak, “Baiklah, Anakku! Pemberianmu aku terima”. Mendengar jawaban itu, Mahmud segera menyalami gurunya. Oleh karena tidak bisa menahan rasa haru, Mahmud pun meneteskan air mata. Kemudian, ia segera merangkul gurunya yang sangat dicintainya itu. Setelah berpamitan, Mahmud meninggalkan gurunya seorang diri di Bukit Tunggul Angus untuk melanjutkan pekerjaannya berdagang. Sebagai seorang peraih (pedagang), ia berdagang dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan sampan. Akhirnya, sampailah ia di Palembang. Pada masa itu, di Kerajaan Palembang ada seorang panglima yang sangat masyhur karena keperkasaannya, bergelar Ayam Berkokok. Ia diberi gelar demikian, karena setiap hari ia berkokok seperti ayam jantan yang sedang mencari lawannya. Konon, belum ada seorang pun yang mampu menandingi keperkasaannya, baik di negeri Palembang itu sendiri maupun dari negeri-negeri lain di sekitarnya. Ketika Mahmud sampai di Palembang, terdengarlah bunyi suara orang berkokok. Dengan iseng, Mahmud menjawab suara yang berkokok itu dari atas sampannya. Ia tidak tahu siapa yang berkokok dan apa maksud orang itu berkokok. Tanpa diduga, tiba-tiba seorang pengawal kerajaan mendatanginya.
“Hei, orang yang di atas sampan! Siapa yang berkokok tadi?” tanya pengawal itu. “Mahmud, Tuan!” jawab kawan Mahmud yang juga ikut berdagang bersama Mahmud. “Apakah kalian mengerti maksud suara yang berkokok itu?”“Tidak, Tuan!” jawab Mahmud. “Perlu kalian ketahui bahwa yang berkokok tadi bukanlah ayam, tapi suara Penglima Kerajaan Palembang yang sedang mencari lawan bertanding. Barang siapa yang menjawab bunyi kokok itu, maka ia harus berani melawan Panglima Kerajaan Palembang sampai mati,” jelas sang pengawal. Mendengar penjelasan itu, wajah Mahmud menjadi pucat. Ia merasa takut dan menyesal. Tak lengah lagi, Mahmud pun dibawa menghadap Sultan Palembang. “Hai, Orang Muda! Karena engkau telah menjawab suara Panglimaku yang berkokok itu, maka engkau harus bertanding dengannya sampai titik darah penghabisan,” kata Sultan Palembang. Mahmud pun semakin ketakutan mendengar penjelasan sang Sultan. Namun, apa hendak dibuat, nasi sudah menjadi bubur. Hendak mundur tidak akan lagi. “Sampailah ajalku. Tapi sebelum aku mati, akan aku lawan panglima itu semampuku,” kata Mahmud dalam hati. Saat itu pula, ia terbayang-bayang pada wajah gurunya yang telah mengajarinya ilmu silat. “Barangkali inilah saatnya aku harus menggunakan ilmu silat yang diajarkan Apek,” katanya lagi dalam hati. Keesokan harinya, pertarungan antara Mahmud dengan Panglima Ayam berkokok pun digelar. Di sekeliling gelanggang pertandingan sudah dipenuhi oleh warga yang ingin menyaksikan pertarungan seru itu. Di tengah gelanggang pertandingan, tampak pula Mahmud berdiri berhadap-hadapan dengan Panglima Ayam Berkokok. Namun sebelum aba-aba dibunyikan, juri pertandingan mengumumkan bahwa barang siapa yang kalah dalam pertandingan ini akan dihukum, dan sebaliknya barang siapa yang menang akan mendapat hadiah yang setimpal dari Sultan Palembang. Usai pengumuman itu, aba-aba pun dibunyikan sebagai tanda pertandingan dimulai. Panglima Ayam Berkokok tampak dengan lincahnya mengeluarkan jurus-jurus pembukanya, dan kemudian memasang kuda-kuda dengan kokoh sasa.[2] Sementara Mahmud tampak tenang-tenang saja, meskipun dalam hatinya sangat kesal melihat tingkah Panglima itu. Ia yakin mampu mengalahkan lawannya. “Kalau memang benar gunung Daik bercabang tiga itu bertuah, aku pasti menang dalam pertandingan ini.” Baru saja Mahmud selesai bergumam, tanpa diduga, tiba-tiba Panglima Ayam Berkokok menyerangnya. Dengan sedikit berkelik, Mahmud terhindar dari pukulan Panglima itu. Berkali-kali Panglima Ayam Berkokok menyerang Mahmud, berkali-kali pula ia memekik geram karena serangannya dapat dipatahkan oleh Mahmud. Setelah pertarungan itu berlangsung beberapa lama, Panglima Ayam Berkokok pun mulai kesal, karena setiap serangannya selalu saja ditepis oleh Mahmud. Ia pun kemudian mengeluarkan jurus pamungkasnya. Melihat hal itu, Mahmud pun mulai berhati-hati. Kali ini Mahmud tidak boleh lengah sedikit pun.   Sementara itu, Panglima Ayam Berkokok sudah siap untuk menewaskan Mahmud. Dengan geramnya, ia menyerang Mahmud dengan jurus pamungkasnya. Namun, Mahmud dapat menepis jurus itu dengan mudahnya. Kini, Mahmud sudah bisa mengukur ilmu silat yang dimiliki Panglima Ayam Berkokok. Tampaknya Panglima itu sudah kehabisan jurus. Mahmud pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Mahmud lalu berbalik menyerang dengan melepaskan pukulan-pukulan mautnya. Terdengarlah suara pekikan dari Panglima itu, karena terkena pukulan Mahmud. Baru beberapa pukulan, Panglima itu pun jatuh tersungkur mencium tanah. Begitu ia bangun, Mahmud mengirimkan sebuah pukulan lagi yang menyebabkan Panglima itu jatuh roboh hingga tak bergerak lagi. Melihat panglimanya jatuh tak berdaya, Sultan pun menjadi cemas. Sementara rakyat yang menyaksikan peristiwa itu bersorak-sorai menyambut kemenangan Mahmud. Setelah itu, Sultan pun menepati janjinya. Ia kemudian mengangkat Mahmud sebagai panglima untuk mengantikan Panglima Ayam Berkokok. Mahmud kemudian terkenal dengan keperkasaannya yang tiada tandingnya. Namun, hal itu pula yang membuat Mahmud menjadi sombong, angkuh, takabbur, dan jahat. Ia merasa dirinyalah yang paling gagah dan perkasa, sehingga apapun yang dilakukannya tak seorang pun yang berani menghalanginya, termasuk Sultan Palembang. Semua perempuan, dayang-dayang dan inang-inang yang ada di istana itu dicerobohinya. Sultan pun tidak berani menentang perbuatan Mahmud yang mendurhaka itu. Oleh karena sudah tidak tahan melihat tingkah Mahmud itu, Sultan pun berniat mencari orang yang mampu mengalahkannya. Namun, tak seorang pun yang sanggup. Kemudian terdengarlah berita bahwa guru Mahmud yang bergelar Apek Huang Tai masih hidup di Daik Lingga. Maka disuruhlah orang menjemput Apek tersebut datang ke Palembang untuk membujuk dan menyadarkan Mahmud. Sesampainya di Palembang, Apek Huang Tai sangat marah dan menyesal mengajarkan ilmu silat kepada si Mahmud. Kini ia merasa berkewajiban untuk menyadarkan Mahmud. Kalau tidak, maka rusaklah namanya di mata orang Daik. Apek Huang Tai sudah mengetahui tingkat kemampuan silat Mahmud. Maka sebelum bertemu dan berkelahi dengan muridnya itu, terlebih dahulu ia membuat perangkap di sebuah titian[3]  yang terbuat dari dua batang kayu di dekat istana. Kedua batang kayu itu dipotongnya separuh di bagian bawahnya, agar ketika Mahmud lewat di situ pastilah ia jatuh ke dalam parit, dan pada saat itulah Apek Huang Tai akan memukulnya sampai roboh. Setelah semua yang direncanakan selesai, Apek Huang Tai pun segera menemui Mahmud di istananya. Ketika itu, Mahmud sedang asyik duduk bersenang-senang dikelilingi oleh inang-inang. Melihat kedatangan gurunya, Mahmud pun menyapanya, “Hai, Pek! Kapan datang dari Daik? Ada perlu apa Apek kemari? Apek perlu uang? Ini aku kasih uang dan kembalilah ke Daik!” Mendengar ucapan muridnya itu, Apek Huang Tai menjawab, “Anakku, kedatangan Apek kemari ingin bertemu denganmu. Apek sangat merindukanmu, Nak! Marilah kita kembali ke Daik daripada kamu berbuat kotor di istana raja ini. Masih ingatkah kamu nasihat Apek dulu? Apek ingin kamu menjadi orang baik-baik, Anakku.” Mendengar jawaban gurunya itu, Mahmud menjadi marah. “Hei, orang tua bangka! Kamu tahu tidak, aku di sini Panglima Kerajaan Palembang. Sekarang aku yang berkuasa di istana ini. Tak seorang pun yang boleh menghalangiku, meskipun kamu adalah guruku. Kalau kamu mau selamat kembalilah ke Daik. Tapi jika tidak mau pulang, sama artinya kamu menghantarkan nyawamu ke sini,” Mahmud mengancam gurunya. Apek sangat sedih mendengar ucapan muridnya itu. Ia tidak menyangka kalau murid yang sangat disayanginya itu akan berbuat durhaka. “Mud, Anakku! Ayolah kita kembali ke Daik! Apek tidak ingin kamu berbuat durhaka kepada raja. Bukankah dulu Apek pernah mengajarkan kamu agar menjadi orang baik-baik, suka menolong orang lain,” Apek Huang Tai mengingatkan Mahmud. Merasa dinasehati, kemarahan Mahmud semakin memuncak. “Hei, Pek! Kamu jangan macam-macam di hadapanku. Apakah kamu mau aku hukum di sini?” ancam Mahmud. Melihat gelagat Mahmud itu, kesabaran Apek Huang Tai pun sudah habis. “Mud, jika kamu tidak mau pulang ke Daik, maka Apek akan memaksamu,” kata Apek Huang Tai. “Cobalah kalau berani!” Mahmud menantang gurunya. Begitu Apek mendekat, Mahmud pun berlari ke luar istana. Rupanya ia betul-betul ingin melawan gurunya. Sang Guru pun mengikutinya keluar. Di luar istana terjadilah pertarungan antara guru dan murid. Pertarungan itu disaksikan oleh para warga istana, termasuk Sultan Palembang. Serang-menyerang pun berlangsung seru. Masing-masing memperlihatkan kemahirannya bersilat. Guru dan murid sama-sama mempunyai gerakan dan jurus-jurus pukulan yang serupa. Semua yang menyaksikan pertarungan itu menjadi terpesona. Tak ada suara yang terdengar selain dari bunyi pukulan tinju, tendangan dan dengus-dengusan nafas mengadu kekuatan. Hanya saja, sang Guru agak kepayahan, karena usianya yang sudah tua. Sementara sang Murid yang masih muda, cerdas dan bersemangat itu, tidak menampakkan kepayahan sedikit pun. Tak berapa lama kemudian, pukulan-pukulan Apek Huang Tai nampak semakin lemah dan nafasnya pun mulai tersengal-sengal kepayahan. Saat itu pula ia teringat dengan titian yang telah dipersiapkannya. Secara pelan-pelan, ia bergerak mundur sambil bersilat ke arah titian. Sesampainya di titian, Apek Huang Tai dengan segala kekuatannya menyerang Mahmud hingga terdesak dan menginjak titian itu. Akhirnya keduanya saling mengadu kekuatan di atas titian. Oleh karena berat dan ditambah pula dengan gerakan-gerakan yang keras dan hebat, maka titian itu pun patah dan keduanya terjatuh ke dalam parit. Pada saat itulah, Mahmud sempat mengirimkan pukulan maut kepada gurunya, dan pada saat yang bersamaan pula sang Guru dapat mencederai Mahmud sehingga ajalnya tiba. Demikianlah akhir dari pertarungan seru antara guru dan murid, keduanya mati bersama-sama di dalam parit itu. 

* * * 

Cerita di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Salah satu pesan moral paling penting bagi masyarakat Panggak Darat, Kecamatan Lingga, terutama kepada guru-guru pencak silat, bahwa sebagai seorang guru pencak silat janganlah mengajarkan semua rahasia ilmu silat kepada muridnya, sekalipun kepada orang yang paling disanyangi. Hal itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti yang dialami oleh Apek Huang Tai dalam cerita di atas, yang telah mengajarkan semua rahasia ilmu silatnya kepada muridnya, Mahmud, sehingga menyebabkan Mahmud menjadi sombong, angkuh, congkak dan suka berbuat jahat. Dengan sifat-sifat tersebut pula Mahmud menjadi murid yang durhaka kepada gurunya. Akibatnya, ia meninggal di tangan gurunya sendiri. Hal tersebut terjadi karena sang Murid sudah tidak mau mendengar nasihat sang Guru. Sekiranya Mahmud mau mendengar nasihat gurunya, tentu ia akan selamat. Dalam petuah orang tua-tua Melayu disebutkan bahwa hendaknya seorang anak ataupun murid senantiasa menjaga petuah dan amanah orang tua atau gurunya kemana ia pergi, seperti dalam ungkapan berikut ini.
peliharalah petuah amanah ini
pahatkan olehmu di dalam hati kalau jaga dijadikan tongkat kalau tidur dijadikan selimut kalau berjalan jadikan pakaian   kalau anak hidup di kampung utamakan sifat tolong menolong   kalau anak hidup di negeri utamakan sifat kasih mengasihi   kalau anak hidup berbangsa utamakan sifat rasa merasa   kalau anak hidup berkaum utamakan sifat semakan seminum   kalau anak hidup beramai bertenggang rasa berbaik niat   kalau anak di rantau orang fahami betul pantang dan larang <   (Sas/sas/47/12-07) Sumber:
  • Isi cerita diringkas dari: “Cerita Rakyat Daerah Riau”, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayan Daerah. 1981. Jakarta: Depdibud Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
  • Anonim. “Daik Lingga: Daik sebagai Bekas Pusat Kerajaan Riau Lingga”, (http://www.ismusurizan.com/daik-lingga, diakses tanggal 1 Desember 2007)


[1] Apek adalah panggilan kepada orang Cina yang sudah tua.
[2] Kokoh kasa artinya kuat dan tegap.
[3] Titian adalah jembatan
Read More..

Cerita Rakyat Riau - Pangeran Suta dan Raja Bayang

Riau adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Sumatera. Dahulu, di daerah ini pernah berdiri sebuah kerajaan yang sangat terkenal, bernama kerajaan Indragiri. Awal berdirinya kerajaan ini tidak dapat dipastikan. Namun, awal pemerintahan kerajaan Indragiri dapat diketahui dari raja pertama yang memerintah yaitu Raja Kecik Mambang atau Rajan Merlan I (1298-19337 M). Kerajaan Indragiri berdiri selama 6 abad (1298 - 1945 M). Selama periode tersebut, telah berkuasa 25 orang raja/sultan. Sultan Hasan Salehuddin Keramatsyah adalah salah seorang di antaranya. Ia merupakan Sultan Indragiri ke-13 dan memerintah pada tahun 1735-1765 M., yang berkedudukan di Japura.
Konon, pada masa itu, Sultan Hasan memiliki seorang putri yang sangat cantik, bernama Raja Halimah. Kecantikan Putri Raja Halimah masyhur sampai ke berbagai negeri. Pada suatu hari, datanglah seorang raja yang bernama Raja Bayang, berasal dari sebuah negeri yang sangat jauh ingin melamar Raja Halimah. Namun, lamaran tersebut ditolak oleh Sultan Hasan, sehingga Raja Bayang memorak-porandakan Kerajaan Indragiri. Sultan Hasan beserta keluarga dan seluruh pasukannya terpaksa mengungsi ke Gaung. Dalam pengungsiannya, Sultan Hasan mendengar kabar bahwa ada seorang pangeran yang memiliki pengalaman berperang dari negeri Jambi, Pangeran Suta namanya. Ia pun segera mengundang Pangeran Suta untuk diajak berunding tentang bagaimana cara mengusir Raja Bayang dan pasukannya dari negeri Indragiri. Bagaimana perundingan antara Sultan Hasan dan Pengaren Suta? Bersediakah Pangeran Suta membantu Sultan Hasan untuk mengusir Raja Bayang dan pasukannya? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Pangeran Suta dan Raja Bayang berikut ini. 
* * *
Alkisah, pada suatu masa Kerajaan Indragiri diperintah oleh Sultan Hasan Salehuddin Keramatsyah yang berkedudukan di Japura. Sultan Hasan adalah seorang raja yang sangat adil dan bijaksana. Selama masa pemerintahannya, seluruh rakyat negeri hidup damai, aman dan sentosa. Selain adil dan bijaksana, ia juga memiliki seorang putri yang cantik jelita, bernama Raja Halimah. Kecantikannya pun terkenal hingga ke berbagai negeri.
pangeran sutaPada suatu hari, datanglah seorang anak raja yang bernama Raja Bayang ke Kerajaan Indragiri. Ia didampingi oleh tiga orang saudara laki-lakinya yang bernama Raja Hijau, Raja Mestika, dan Raja Lahis. Keempat anak raja itu datang lengkap dengan pengiring dan balatentara yang gagah perkasa.
Kedatangan mereka membuat gempar rakyat negeri Indragiri. Perilaku mereka sungguh tercela dan tidak senonoh. Mereka memorak-porandakan kampung-kampung di negeri itu. Tanaman tebu dan pisang semua habis mereka tebas dengan golok. Binatang-binatang ternak penduduk seperti ayam, itik, kambing dan kerbau lari berhamburan keluar dari kandang. Anak-anak dara berkerubung kain sarung tidak berani keluar rumah. Mereka takut pada keberingasan Raja Bayang dan pasukannya yang bertindak semema-mena.
Sultan Hasan sangat sedih dan risau mendengar kekacauan yang ditimbulkan oleh Raja Bayang dan balatentaranya. Dipanggilnyalah seluruh menteri kerajaan untuk bermusyawarah menghadapi bahaya yang datang mengancam. “Wahai, para menteriku! Bagaimana kita menghadapi kekuatan Raja Bayang dan balatentaranya?” tanya Raja Hasan kepada para menterinya. “Ampun, Baginda Raja! Pasukan Raja Bayang terlalu kuat untuk kita lawan. Mereka sangat tangguh dan sudah terbiasa hidup dalam rimba,” jawab salah seorang menteri sambil menyembah. “Benar, Baginda! Sebaiknya kita tunggu apa yang dikehendaki oleh anak raja itu,” tambah menteri yang lainnya. “Baiklah, kalau begitu!” jawab sang Raja dengan tenang.
Beberapa hari kemudian, datanglah rombongan Raja Bayang di Japura. Meskipun Raja Hasan merasa jengkel kepada Raja Bayang yang telah membuat kekacauan itu, Raja Hasan tetap menyambutnya dengan sopan. “Hai, Raja Bayang! Apa maksud kedatanganmu ini?” tanya Raja Hasan. “Aku ke sini untuk meminang Putrimu,” jawab Raja Bayang dengan angkuhnya. Pinangan Raja Bayang ditolak mentah-mentah oleh Raja Hasan. “Wahai, Raja Bayang! Ketahuilah! Aku tidak ingin bermenantukan anak seorang raja sepertimu. Kamu datang ke wilayah kekuasaanku dengan cara sembrono. Aku tidak rela putriku yang lemah lembut itu bersanding dengan kamu yang kasar dan tak mengenal adab.”
Raja Bayang sangat marah mendengar jawaban itu. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah bak terbakar api. “Hai, Raja Bodoh! Kamu akan menyesal karena telah menolak pinanganku,” ancam Raja Bayang lalu pergi meninggalkan istana Japura.
Tak berapa lama, Raja Bayang kembali bersama balatentaranya dengan persenjataan lengkap. Kemudian mereka menyerang Kerajaan Indragiri. Tak ayal lagi, Kerajaan Indragiri diporak-porandakan dalam waktu yang singkat. Walaupun Raja Hasan telah mengerahkan seluruh pasukan Kerajaan Indragiri, mereka tidak mampu menandingi kekuatan pasukan Raja Bayang. Oleh karena itu, Raja Hasan dan pasukannya terpaksa meninggalkan Japura, menyingkir ke suatu tempat yang bernama Gaung.
Dalam pengungsian itu, Raja Hasan mengumpulkan para menterinya untuk merebut kembali Kerajaan Indragiri dari tangan Raja Bayang.
 “Ampun, Baginda! Prajurit istana banyak yang tewas dalam pertempuran. Kekuatan kita semakin sedikit,” kata seorang menteri.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Raja Hasan.
“Ampun, Baginda Raja! Hamba pernah mendengar bahwa ada seorang pangeran dari negeri sebelah timur yang baik kelakuannya dan telah berjasa kepada negeri Jambi. Mengenai kemampuannya, sudah tidak diragukan lagi. Banyak sudah laut yang ia layari, pulau yang ia singgahi, daratan yang ia jelajahi, dan luka badan yang ia rasai dari medan pertempuran,” jelas seorang menteri yang lain.
“Siapa namanya?” tanya Raja Hasan penasaran.
“Ampun, Baginda! Hamba tidak tahu persis namanya. Tapi, orang-orang menyebutnya Pangeran Suta,” jawab menteri itu.
Setelah melakukan perundingan, akhirnya mereka sepakat untuk mengutus Datuk Tumenggung mencari Pangeran Suta. Keesokan harinya, usai berpamitan pada Raja Hasan, berangkatlah Datuk Tumenggung dengan sebuah kapal kecil dan Gaung berlayar ke laut lepas. Setelah berhari-hari berlayar, sampailah ia di perairan Jambi. Di sana ia mendapat keterangan bahwa Pangeran Suta sedang berada di Selat Malaka mengusir gerombolan lanun atau bajak laut.
Beberapa kali Datu Tumenggung berlayar mengitari Selat Malaka untuk mencari Pangeran Suta. Akhirnya pada suatu hari, ia berhasil menemuinya. Ia pun menceritakan kesulitan yang tengah dihadapi rajanya. “Hai, Pangeran Suta! Kami sudah mendengar tentang kehebatan Pangeran. Raja kami mengharap kesediaan Pangeran untuk membantu raja kami,” kata Datuk Tumenggung. “Baiklah, saya bersedia untuk membalas malu yang telah ditanggung rajamu itu,” jawab Pangeran dengan ramah. Setelah Pangeran Suta menyatakan kesediaannya, berangkatlah Datuk Tumenggung dan Pangeran Suta besarta pasukannya ke Gaung.
Sesampainya di Gaung, Sultan Hasan menyambut Pangeran Suta dengan sangat gembira. Setelah menjamu sebaik-baiknya, Sultan Hasan dan menteri-menterinya melakukan perundingan dengan Pangeran Suta.
Keesokan harinya, Pangeran Suta mulai mempersiapkan alat-alat perang. Ia juga melatih prajurit Indragiri, hingga mereka yang semula berkecil hati karena menderita kekalahan, kembali bersemangat. Pasukan Pangeran Suta yang sudah terlatih dalam perang baik di darat maupun di laut segera menduduki Sungai Indragiri. Selanjutnya pasukan tersebut mendarat dan bersama-sama dengan prajurit Indragiri berangkat menuju Japura.
Pertempuran sengit pun terjadi, karena dua kekuatan yang sama-sama tahan uji berlaga dengan sekuat tenaga. Pertempuran itu berlangsung selama beberapa hari. Pasukan Raja Bayang mulai kewalahan. Banyak di antara balatentaranya yang tewas dan luka-luka. Alat-alat perang mereka pun rusak berantakan. Raja Bayang dan ketiga saudaranya mundur ke pedalaman. Walaupun Raja Bayang dan balatentaranya sudah mundur ke hutan, Pangeran Suta tetap memerintahkan pasukannya untuk mengejar mereka.
Pasukan Raja Bayang kocar-kocir tak tentu arah. Mereka terus diburu oleh pasukan Pangeran Suta. Akhirnya mereka pun kehabisan bekal makanan, kehilangan senjata dan tenaga. Balatentara yang terluka pun semakin parah. Keberanian mereka telah surut tanpa bekas.
Keempat anak raja yang sombong itu kemudian pulang ke negerinya menempuh perjalanan jauh dengan menanggung rasa malu karena kekalahan yang sangat besar.
pangeran sutaPasukan Pangeran Suta segera kembali ke Japura. Utusan pun dikirim Gaung untuk menjemput Sultan Hasan kembali ke istana Japura. “Wahai, Pangeran Suta! Oleh karena engkau telah berjasa terhadap negeri ini, maka sebagai balasannya, aku nikahkan engkau dengan putriku, Raja Halimah,” kata Raja Hasan kepada Pangeran Suta. “Terima kasih, Baginda Raja!” jawab Pangeran Suta dengan senangnya.
Seminggu sebelum pesta pernikahan dimulai, seluruh rakyat negeri tampak sibuk. Mereka sibuk membersihkan, memperbaiki dan menghias istana dengan aneka umbul-umbul. Jalan-jalan mereka rapikan, taman-taman mereka hijaukan, dan lapangan pun dipersiapkan untuk aneka pertunjukan dalam acara penikahan Pangeran Suta dan Raja Halimah. Setelah itu Pangeran Suta dinobatkan sebagai Raja Japura. Maka lengkaplah kebahagian mereka. Rakyat negeri pun kembali aman, damai dan makmur.
* * *
Cerita di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Adapun nilai-nilai moral tersebut di antaranya sifat suka menolong dan menjauhi sifat sombong. Sifat suka menolong tercermin pada sifat Pangeran Suta ketika bersedia membantu Raja Hasan mengusir Raja Bayang dan pasukannya dari negeri Japura.
Sifat suka menolong ini sangat diutamakan dalam kehidupan orang Melayu. Oleh karena itu sifat ini sudah ditanamkan sejak dini pada anak cucunya mereka. Itulah sebabnya kebanyakan orang Melayu senang menolong dan berbuat baik kepada orang lain. Mereka sudah diajar dan dilatih sejak dini untuk rela dan ikhlas dalam menolong sesama umat. Keutamaan sifat menolong ini banyak disebutkan dalam ungkapan Tunjuk Ajar Melayu, salah di antaranya seperti berikut:
apa tanda Melayu budiman,
tulus ikhlas sesama insan
menolong umat mau berkorban
hidup matinya pada kebajikan
Berdasarkan ungkapan di atas, sifat suka menolong patut untuk dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun sifat sombong tercermin pada perilaku Raja Bayang dan ketiga orang saudaranya ketika mengobrak-abrik wilayah Kerajaan Indragiri dengan semena-mena. Mereka merasa bahwa merekalah yang tangguh dan paling kuat. Inilah sifat orang-orang sombong, selalu menganggap besar keadaan dirinya sendiri dan menganggap rendah keadaan orang lain. Mereka selalu merasa lebih dibandingkan dengan orang lain, baik dalam hal keturunan, harta, ilmu, ibadah dan lain-lain. Adapun tanda-tanda sifat sombong adalah memandang hina orang lain, merasa bangga serta suka disanjung. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat sombong ini tidak dapat dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. (SM/sas/41/11-07)
Sumber:
  • Isi cerita diringkas dari Al Mudra, Mahyudin dan Tuti Sumarningsih. 2005. Pangeran Suta dan Raja Bayang. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
  • Rosadi, Andri. “Sejarah Melayu: Kerajaan Indragiri”, http://history.melayuonline.com, diakses tanggal 9 November 2007.
  • ASM. Romli. “Karakteristik Pribadi Mulia”, http://www.purwakarta.org/index.php/2006/05/07/karakteristik-pribadi-mulia/, diakses pada tanggal 9 November 2007.
  • Anonim. “Mencegah sifat Sombong”. Munif, http://abdulmunif.wordpress.com/2007/09/27/mencegah-sifat-sombong/, diakses tanggal 9 November 2007.
  • Anonim. “Kerajaan Indragiri”, http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Indragiri, diakses tanggal 9 November 2007.
  • http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/47-Pangeran-Suta-dan-Raja-Bayang
Read More..

Friday, April 3, 2015

Cerita Rakyat Riau - Batu Batangkup

Setiap agama senantiasa mengajarkan kepada setiap anak agar berbuat baik kepada kedua orang tua. Dalam ajaran Islam misalnya, banyak dalil-dalil baik dari Alquran maupun hadis Nabi yang menganjurkan kepada umat Islam agar berbuat baik kepada kedua orang tua. Salah satu dalil Alquran yang sangat terkenal dalam masalah ini adalah surat Al-Isra ayat 23 yang artinya seperti berikut, “…Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan-lah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” {Q.S. Al-Isra (17): 23}. Jika kita perhatikan ayat ini, Allah melarang hamba-Nya untuk berbicara dengan nada tinggi kepada kedua orang tua, apalagi membentak mereka. Bahkan berkata “Ah” dengan nada yang agak keras saja dilarang oleh Allah.
Mengapa Allah berfirman secara khusus mengenai masalah ini? Karena kejadian seperti ini banyak terjadi. Begitu banyaknya anak-anak yang sudah dewasa tidak bisa membalas budi orang tuanya. Betapa sedihnya orang tua, ketika kekuatan fisiknya sudah berkurang seiring dengan usia, namun anak-anaknya tidak mau lagi memerhatikan kondisinya. Seperti dalam sebuah cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Indragiri Hilir, Riau, Indonesia, diceritakan bahwa ada seorang janda tua yang bernama Mak Minah, mempunyai tiga orang anak yang tidak tahu membalas budi. Ketiga anaknya tersebut pemalas dan nakal. Mereka tidak pernah membantu emaknya untuk mencari kayu bakar di hutan. Mereka juga selalu membantah perkataan emaknya. Mak Minah sangat sedih melihat perilaku mereka. Pada suatu hari, Mak Minah meminta kepada Batu Batangkup agar menelan dirinya, karena sudah tidak sanggup lagi hidup dengan ketiga orang anaknya yang tidak pernah menghargainya. Bersediakah Batu Batangkup itu memenuhi permintaan Mak Minah? Lalu, bagaimana nasib ketiga anaknya? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita rakyat Batu Batangkup berikut ini.
* * *
Konon, di sebuah dusun di Indragiri Hilir, Riau, hiduplah seorang janda tua yang bernama Mak Minah. Ia hidup bersama ketiga anaknya. Anak pertama dan keduanya laki-laki, bernama Utuh dan Ucin. Sementara anak ketiganya seorang perempuan, bernama Diang.
Sejak ditinggal mati suaminya, Mak Minah-lah yang bekerja keras untuk menghidupi ketiga anaknya. Meskipun sudah tua, Mak Minah masih bersemangat dan tekun bekerja. Setiap pagi, ia sudah bangun memasak dan mencuci. Setelah pekerjaan rumah beres, Mak Minah segera berangkat ke hutan untuk mencari kayu bakar untuk dijual ke pasar. Hasil penjualannya itulah yang dipakai untuk memenuhi kebutuhannya dan ketiga anaknya.
Ketiga anak Mak Minah masih kanak-kanak. Mereka sangat nakal dan pemalas. Sehari-hari mereka hanya bermain. Mereka tidak pernah membantu emaknya yang sudah tua dan mulai sakit-sakitan. Mereka tidak merasa iba melihat emaknya setiap hari bekerja keras membanting tulang sendirian untuk menghidupi mereka. Bahkan, mereka sering membantah nasihat emaknya hingga membuat Mak Minah bersedih.
Pada suatu sore, ketiga anak Mak Minah sedang asyik bermain tidak jauh dari rumah mereka. “Utuh, Ucin, Diang… !” teriak Mak Minah memanggil ketiga anaknya. Meskipun mereka telah mendengar panggilan emaknya, ketiga anak itu diam saja. “Anak-anakku, Pulanglah! Hari sudah sore,” lanjut Mak Minah.
Ketiga anak itu masih asyik bermain tanpa menghiraukan seruan emaknya. Tak lama kemudian, Mak Minah kembali memanggil mereka. “Utuh, Ucin, Diang…! Pulanglah! Hari sudah gelap. Hari ini Emak kurang enak badan. Masaklah untuk makan malam!” seru Mak Minah. Usai berseru kepada ketiga anaknya, Mak Minah kembali merebahkan tubuhnya yang lemas ke pembaringan. Setelah menunggu beberapa saat, ketiga anaknya tetap saja asyik bermain. Mereka tidak menghiraukan panggilan Mak Minah. Beberapa saat menunggu, ketiga anaknya tidak mau berhenti bermain. Akhirnya, Mak Minah pergi ke dapur untuk memasak, meskipun badannya sangat lemas.
Tak berapa lama, makanan sudah siap. Mak Minah kembali memanggil ketiga anaknya. “Utuh, Ucin, Diang… ! Pulanglah, Nak! Makan malam kalian sudah Emak siapkan.” Setelah mendengar makan malam mereka siap, baru mereka beranjak dan berhenti bermain. Lalu, ketiga anak tersebut, langsung menuju ke dapur menyantap makanan yang sudah disiapkan emaknya. Dengan lahapnya, mereka menghabiskan semua makanan itu tanpa menyisakan sedikitpun untuk emaknya. Usai mereka makan, bukannya membantu emaknya mencuci piring, malah mereka kembali bermain.  
Malam pun semakin larut. Sakit Mak Minah semakin parah. Seluruh badannya terasa pegal-pegal dan sangat lemah karena kelelahan bekerja seharian. “Utuh, Ucin, Diang… ! Tolong pijitin Emak, Nak!” rintih Mak Minah memanggil anaknya. Tapi, anak-anaknya pura-pura tidak mendengar. Mereka terus saja bermain hingga larut malam tanpa mengenal waktu.
Mak Minah sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kecuali meratapi nasibnya. “Ya Tuhan, tolonglah hamba! Sadarkanlah ketiga anak-anakku, agar mereka mau perduli pada Emaknya yang tak berdaya ini,” Mak Minah berdoa sambil meneteskan air mata. Usai berdoa, Mak Minah pun tertidur lelap.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mak Minah sudah bangun memasak nasi dan lauk yang banyak untuk anak-anaknya. Setelah itu, tanpa sepengetahuan anaknya, Mak Minah pergi ke tepian sungai di dekat gubuknya. Ia mendekati sebuah batu yang konon bisa berbicara seperti manusia. Batu itu juga bisa membuka dan menutup seperti kerang. Orang-orang menyebutnya Batu Batangkup.[1]
Di depan batu itu, Mak Minah berlutut dan memohon kepada batu itu agar menelan dirinya. “Wahai Batu Batangkup, telanlah saya. Saya sudah tidak sanggup lagi hidup bersama ketiga anak saya yang tidak mau mendengar nasihat,” pinta Mak Minah.
“Apakah engkau tidak menyesal, Mak Minah?” jawab Batu Batangkup. “Lalu, bagaimana nasib anak-anakmu?” Batu Batangkup kembali bertanya.
“Biarlah mereka hidup sendiri tanpa emaknya. Mereka juga sudah tidak mau perduli pada emaknya,” jawab Mak Minah.
“Baiklah, jika itu yang engkau inginkan,” kata Batu Batangkup.
Dalam waktu sekejap, Batu Batangkup menelan tubuh Mak Minah dan hanya menyisakan rambutnya yang panjang hingga masih tampak di luar.
Sementara itu, ketika hari menjelang sore, ketiga anak Mak Minah pulang dari bermain. Mereka langsung menyantap makanan yang sudah disiapkan Mak Minah. Mereka heran, karena emak mereka belum juga pulang. Karena melihat persediaan makanan masih banyak, mereka tetap tidak peduli dengan emak mereka.
Menjelang hari kedua, persediaan makanan mereka sudah habis. Sementara Mak Minah belum juga pulang ke rumah. Ketiga anaknya pun kebingungan mencari Mak Minah karena mereka sudah kelaparan. Setelah mencari ke sana ke mari, mereka tidak menemukan Mak Minah. “Maafkan kami, Emak! Kami sangat menyesal menyiakan-nyiakan Emak…,” ratap ketiga anak tersebut. Hingga larut malam, mereka terus meratap dan menangis karena kelaparan. Tapi, karena kecapaian seharian bermain, akhirnya mereka pun tertidur lelap.
Keesokan harinya, ketiga anak tersebut kembali mencari emak mereka. Setelah menyusuri sungai yang tak jauh dari tempat tinggal mereka, sampailah mereka di depan Batu Batangkup. Alangkah terkejut ketika mereka melihat rambut emaknya terurai di sela-sela Batu Batangkup.
“Wahai, Batu Batangkup! Keluarkanlah Emak kami dari perutmu. Kami membutuhkan Emak kami,” pinta ketiga anak itu. Batu Batangkup diam saja. Tapi ketiga anak itu terus meratap memohon agar emak mereka dilepaskan.
“Tidak! Kalian hanya membutuhkan emak kalian pada saat lapar. Kalian tidak pernah mau membantu dan mendengar nasihat emak kalian,” ujar Batu Batangkup. Ketiga anak itu pun terus meratap dan menangis.
“Batu Batangkup! Kami berjanji untuk membantu emak dan mematuhi nasihat emak kami,” jawab Utuh menangis. “Iya, Batu Batangkup, kami berjanji,” sambung Uci dan Diang, lalu keduanya turut menangis.
“Baiklah, emak kalian akan aku keluarkan karena kalian sudah berjanji. Tetapi jika kalian mengingkari janji, emak kalian akan kutelan kembali,” kata Batu Batangkup mengancam. Mereka pun sepakat dengan perjanjian itu. Batu Batangkup kemudian mengeluarkan Mak Minah dari perutnya. Utuh, Ucin dan Diang segera memeluk Mak Minah.
“Maafkan Utuh, Emak! kata Utuh minta maaf. “Maafkan Uci juga, Mak! Uci berjanji akan mematuhi nasihat Emak,” sambung Uci. “Iya, Mak! Diang juga minta maaf. Diang berjanji akan membantu Emak!” kata Diang. “Sudahlah, Anakku! Kalian sudah Emak maafkan,” kata Mak Minah dengan haru. Setelah itu, mereka pun pulang dengan perasaan gembira, karena mereka bisa berkumpul kembali.
Sejak saat itu, setiap hari ketiga anak tersebut rajin membantu Mak Mina bekerja. Utuh dan Uci membantu emaknya mencari kayu bakar di hutan untuk di jual ke pasar. Sementara Diang, sibuk di rumah menyiapkan makanan untuk kedua emak dan kedua abangnya. Mak Minah sangat gembira dan bahagia melihat perubahan perilaku anaknya.
Namun sayang, kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa hari. Perilaku ketiga anaknya tersebut kembali berubah. Justru, mereka semakin nakal dan pemalas. Utuh dan Uci tidak pernah lagi membantu emaknya mencari kayu bakar. Demikian pula Diang, ia tidak pernah memasak di rumah. Bahkan, mereka semakin berani membantah nasihat emak mereka. Hal itu membuat hati Mak Minah semakin sedih.
Pada suatu malam, Mak Minah memasak nasi dan lauk cukup banyak. Rupanya, Mak Minah sudah tidak tahan melihat perilaku anaknya. Pada saat tengah malam, di saat ketiga anaknya tertidur lelap, Mak Minah ingin kembali ke Batu Batangkup. Sebelum berangkat, Mak Minah mencium dan menyelimuti anaknya satu per satu.
Dengan perasaan sedih, Mak Minah meninggalkan ketiga anaknya. Di depan Batu Batangkup, Mak Minah berlutut dan memohon, “Wahai, Batu Batangkup! Telanlah saya kembali. Mereka benar-benar tidak mau menghormatiku lagi,” kata Mak Minah pasra. Tanpa menunggu lama, Batu Batangkup pun menelan Mak Minah.
Keesokan harinya, ketiga anaknya kembali bermain seperti biasanya. Mereka tidak menghiraukan emaknya. Dikiranya, emaknya pergi ke hutan mencari kayu. Yang penting bagi mereka, saat lapar makanan sudah siap. Menjelang sore hari, Mak Minah belum pulang ke rumah. Mereka kemudian tersadar, ternyata mereka telah melanggar janji yang pernah mereka sepakati untuk tidak nakal lagi.
Tanpa berpikir panjang, ketiga anak itu segera berlari ke Batu Batangkup. “Maafkan kami, Batu Batangkup! Kami sangat menyesal. Keluarkanlah emak kami dari perutmu!” ratap ketiga anak itu sambil menangis.  
“Kalian memang anak nakal. Kali ini aku tidak akan memaafkan kalian,” jawab Batu Batangkup dengan kesal. Batu Batangkup kemudian menelan ketiga anak itu. Setelah tubuh ketiga anak itu sudah masuk di  dalam perutnya, Batu Batangkup itu pun masuk ke dalam tanah. Sampai sekarang Batu Batangkup itu tidak pernah muncul lagi.
* * *
Cerita rakyat di atas termasuk cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Adapun nilai-nilai moral tersebut di antaranya sifat pemalas, nakal dan suka membantah nasihat orang tua. Ketiga sifat ini tercermin pada sifat Utuh, Uci dan Diang. Ketiga anak tersebut sangat nakal dan tidak mau membantu emaknya yang sudah tua untuk mencari nafkah. Bahkan, mereka berani membantah nasihat emaknya. Ketiga sifat yang dimiliki anak tersebut tidak dapat dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Bagi orang Melayu, ketiga sifat tersebut termasuk sifat-sifat yang tercela dan sangat dipantangkan.
Bagi mereka, orang yang malas, berlalai-lalai, dan tidak tekun diangap sebagai orang yang tidak bertanggungjawab dan tidak tahu akan hak dan kewajibannya. Oleh karena itu, orang yang memiliki sifat ini lazimnya dipandang rendah, bahkan dilecehkan oleh masyarakat. Demikian pula sifat suka membantah orang tua, sangat dipantangkan dalam kehidupan orang Melayu.
Banyak ungkapan Melayu yang menyebutkan mengenai sifat-sifat yang dipantangkan tersebut. Mengenai sifat pemalas, dikatakan:
bekerja mengeluh,
makan berpeluh
berbeban mencari yang ringan,
makan mencari yang sedap
Adapun ungkapan-ungkapan mengenai sifat pembangkang atau suka membatah, dikatakan:
apa tanda orang pembangkang,
orang membujur ia melintang
kalau hidup suka membangkang,
kemana pergi dibenci orang
(SM/sas/39/11-07)
Sumber : 
  • Isi cerita diringkas dari Alwi, Farouq. 2006. Batu Batangkup. Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa.
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.
  • -------. 1994. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Bappeda Tingkat I Riau.
  • Putri, Dahlia. 2007. “Mencintai Islam: Sang Buah Hati”, (http://www.mail-archive.com/mencintai-islam@yahoogroups.com/msg02751.html, diakses tanggal 31 Oktober 2007.
  • http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/45-Batu-Batangkup


[1] Batangkup artinya mengatup, yaitu membuka dan menutup sediri.
Read More..

Thursday, April 2, 2015

Cerita Rakyat Riau - Bujang Buta

Apa arti sebuah nama bagi seorang anak? Bagi segelintir orang, mereka menganggap bahwa “nama” tidak memiliki pengaruh terhadap si anak. Namun, sebagaian orang menganggap bahwa “nama” memiliki fungsi dan pengaruh terhadap psikologis dan perilaku anak. Nama adalah sesuatu yang pertama didapat oleh seorang bayi dari orang tuanya, yang merupakan ciri spesifik (identitas) yang membedakannya dengan orang lain.
Di samping itu, pemberian nama kepada anak juga merupakan sebuah doa dan harapan bagi orang tua, agar sifat dan perilaku anaknya sesuai dengan nama anak tersebut. Biasanya, seorang anak yang mempunyai nama yang baik, mulia dan tinggi, kemudian faham makna namanya, ia akan bercita-cita setinggi dan semulia namanya sebagaimana yang diharapkan oleh orang tua. Selain itu, ia juga akan merasa malu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk yang tidak sesuai dengan namanya. Misalnya, orang yang bernama “Hassan” (bermakna baik), tentu ia merasa malu melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk.
Oleh karena itu, dalam ajaran Islam, pemberian nama kepada anak mendapat perhatian yang cukup besar. Pemberian nama oleh orang tua kepada anaknya merupakan tahap pendidikan paling dini setelah atau bahkan sebelum anak itu lahir. Dengan nama yang baik, para orang tua berharap agar anak mereka menjadi orang yang baik pula. Namun, terkadang pribadi seorang anak berlawanan dengan makna namanya dan tidak sesuai dengan harapan orang tua. Misalnya, walaupun sebagian orang yang bernama “Sabri” cenderung memiliki sifat sabar, ada juga sejumlah anak atau individu yang memiliki nama tersebut yang bersifat kurang sabar dan pemarah. Meskipun demikian, yang terpenting adalah orang tua memberikan nama yang baik kepada anak mereka, agar si anak memiliki sifat-sifat yang positif dan bercita-cita setinggi dan semulia namanya sebagaimana yang diharapkan oleh orang tua.
Pada sebuah cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Riau, Indonesia, diceritakan bahwa pada zaman dahulu ada seorang janda tua yang mempunyai tiga orang anak laki-laki. Janda tua itu memberikan nama kepada tiga orang anaknya sesuai dengan yang ia harapkan. Misalnya, anak sulungnya diberinya nama Bujang Perotan, agar anak itu menjadi perotan yang baik. Anak tengahnya diberinya nama Bujang Pengail, agar anak  itu menjadi pengail yang baik pula. Namun, untuk anak bungsunya ia bingung untuk memberinya nama, karena kondisi fisik anak itu tidak normal, kedua matanya tidak bisa melihat sejak lahir. Oleh karena itu, janda tua itu terpaksa memberinya nama Bujang Buta. Ketiga anak laki-lakinya tersebut memiliki perangai yang berbeda-beda. Bujang Perotan dan Bujang Pengail suka berbuat jahil kepada adiknya, Bujang Buta. Sementara Bujang Buta, meskipun sering dijahili oleh kedua abangnya, ia selalu tetap bersabar.
Pada suatu hari, ketiga orang bersaudara tersebut pergi ke hutan merotan dan mengail. Namun, saat mereka sibuk mencari rotan, niat jelek Bujang Perotan dan Bujang Pengail tiba-tiba muncul. Mereka meninggalkan Bujang Buta seorang diri di dalam hutan belantara itu. Apa yang akan terjadi dengan Bujang Buta? Akankah ia dimangsa binatang Buas? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya cerita Bujang Buta berikut ini.  
* * *
bujang butaAlkisah, pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung di Riau, Indonesia, hiduplah seorang janda tua bersama tiga orang anak laki-lakinya. Anaknya yang sulung bernama Bujang Perotan, anak yang kedua bernama Bujang Pengail, dan anak bungsunya bernama Bujang Buta. Namun, ketiga anaknya tersebut memiliki perangai yang berbeda-beda. Bujang Perotan dan Bujang Pengail memiliki sifat buruk, mereka selalu berniat mencelakakan adiknya. Sebaliknya Bujang Buta, meskipun buta, ia adalah anak yang sabar dan tekun bekerja.
Pada suatu hari, ketiga bersaudara tersebut pergi ke hutan untuk merotan dan mengail ikan. Di tengah mereka asyik mengail ikan, Bujang Perotan dan Bujang Pengail meninggalkan Bujang Buta sendirian di dalam hutan belantara itu.  Ketika Bujang Buta tersadar bahwa kedua abangnya telah meninggalkannya, ia pun berteriak-teriak memanggil kedua abangnya tersebut. “Abaaang… ! Kalian di mana?” teriak Bujang Buta. Berkali-kali sudah Bujang Buta berteriak memanggil abangnya, namun ia tidak mendengar jawaban. Hingga malam menjelang, Bujang Buta tidak menemukan kedua abangnya.
Dengan tertatih-tatih dan disertai perasaan takut, Bujang Buta berusaha berjalan mengikuti kaki melangkah. Baru beberapa langkah, tiba-tiba ia merasakan kakinya menginjak sesuatu. Ia pun meraba-raba dan mengambil benda itu. “Ah, sepertinya ini buah mangga,” gumam Bujang Buta. Digigitnya buah itu sampai hanya bijinya yang tersisa. “Mmm, manis sekali mangga ini,” kata Bujang Buta dalam hati. Oleh karena masih merasa lapar, Bujang Buta terus menghisap-hidap biji mangga tersebut. Karena asyiknya, tanpa diduga biji mangga itu tertelan.
 “Adooi Mak!‘ pekik Bujang Buta. Bersamaan dengan itu, matanya terbelalak. Ia sangat terkejut ketika ia bisa melihat dedaunan dan ranting-ranting kecil yang bergoyang di hadapannya. Bujang Buta kemudian melihat ke langit dan ia bisa melihat indahnya sinar rembulan. “Alhamdulillah…! Terima kasih ya Allah! Mataku sudah bisa melihat dunia,” ucap Bujang Buta sambil memejamkan matanya.
Namun, ketika ia membuka matanya kembali, di hadapannya sudah ada dua ekor beruk dan seekor harimau. Bujang Buta menjadi ketakutan, dikiranya harimau itu akan menerkamnya. “Jangan takut, Orang Muda!” seru si Harimau. Bujang Buta kaget, ia tidak menyangka kalau harimau itu bisa berbicara.
 “Hendak ke manakah engkau ini, Orang Muda?” tanya si Beruk. “Saya hendak mencari kampung,” jawab Bujang Buta pelan karena takut. “Mengapa begitu?” tanya si Harimau pula. Lalu, Bujang Buta pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya.
Setelah mendengar cerita Bujang Buta, mengertilah ketiga binatang itu bahwa Bujang Buta adalah anak yang baik. Lalu ketiga binatang itu memberinya senjata.
 “Hai, orang muda! Karena engkau adalah orang yang baik, maka kami membekalimu terap dan keris,” kata kedua beruk itu sambil menyerahkan senjata itu kepada Bujang Buta. “Jangan khawatir, Orang Muda! Senjata itu bisa bergerak sendiri sesuai dengan keinginanmu,” tambah seekor beruk.
Si Harimau pun tidak mau ketinggalan. “Untuk melengkapi senjatamu, aku membekalimu penukul yang bisa memukul sendiri sesuai dengan perintahmu,” jelas si Harimau sambil menyerahkan senjata itu kepada Bujang Buta. “Terima kasih, sobat! Kalian memang binatang yang baik hati,” kata Bujang Buta.
Usai berpamitan, Bujang Buta meninggalkan hutan itu menuju ke kampung yang telah ditunjukkan oleh ketiga binatang tersebut. Setelah jauh berjalan, sampailah ia di sebuah negeri. Ketika ia akan memasuki sebuah kampung, terlihatlah seorang nenek yang sedang merangkai bunga. Bujang Buta kemudian mendekati nenek itu.
 “Nenek sedang kerja apa?” tanya Bujang Buta dengan sopan.
“Merangkai bunga,” jawab nenek itu.
“Siapa engkau ini Orang Muda?” nenek itu balik bertanya.
“Orang Muda, Nek,” jawab Bujang Buta. Kini ia tidak lagi menyebut dirinya Bujang Buta.
“Bolehkah saya membantu, Nek?” tanya Bujang Buta menawarkan diri.
“Tentu saja, tapi cobalah dulu,” jawab nenek itu.
Karena sifatnya yang rajin dan suka menolong, ia pun membantu usaha nenek itu dan diizinkan untuk tinggal bersamanya. Sejak itu, setiap hari Bujang Buta membantu sang Nenek merangkai bunga. Ia sudah menganggap nenek itu seperti emaknya sendiri.
Pada suatu hari, ketika mereka asyik merangkai bunga, nenek itu bercerita kepada Bujang Buta. “Ketahuilah, Orang Muda! Raja Negeri ini sedang dilanda kesedihan. Putri bungsunya ditawan oleh Raja Gajah untuk dikawini. Hingga kini, tidak seorang pun yang mampu membebaskan sang Putri dari tawanan Raja Gajah.” Mendengar cerita nenek itu, timbul niat Bujang Buta ingin menolong sang Purtri. “Bolehkah saya membantunya, Nek?” tanya Bujang Buta. “Oh, jangan Orang Muda! Gajah itu sangat tangguh. Ia memiliki kesaktian yang sangat tinggi,‘ cegah nenek itu.
Bujang Buta hanya terdiam melihat kekhawatiran nenek tua itu. Namun, ia tetap bertekad untuk menyelamatkan sang Putri. Ketika malam sudah larut, diam-diam Bujang Buta pergi ke tempat Putri Bungsu ditawan oleh gajah itu. Tak lupa ia membawa ketiga senjata pemberian beruk dan harimau.
Sesampainya di tempat gerombolan gajah, Bujang Buta dihadang oleh sejumlah gajah, termasuk di antaranya Raja Gajah yang menawan sang Putri. Tanpa berpikir panjang, Bujang Buta pun mengeluarkan ketiga senjatanya. Setelah berdoa kepada Tuhan, ia mulai memusatkan perhatiannya pada ketiga senjata tersebut. Tak berapa lama, tiba-tiba terap itu terbang ke arah gerombolan gajah itu lalu melilit mereka. Setelah gajah-gajah tersebut terikat, penukul dan keris pun ikut meluncur memukul dan menikam gerombolan gajah tersebut hingga mati bergelimpangan.
Sang Putri Bungsu yang menyaksikan kejadian itu, sangat kagum melihat kesaktian Bujang Buta. Setelah melihat gerombolan gajah itu tidak bergerak lagi, sang Putri menghampiri Bujang Buta untuk mengucapkan terima kasih. “Terima kasih, Orang Muda! Engkau telah menyelamatkan nyawa Putri. Hadiah apa yang engkau inginkan, Orang Muda?” tanya Putri Bungsu menawarkan. “Maaf, Tuan Putri! Hamba tidak menginginkan hadiah apa pun,” jawab Bujang Buta memberi hormat.
Tidak kehabisan akal, sang Putri kemudian meminjam baju Bujang Buta. Setelah merobek bagian lengannya, baju itu dikembalikannya lagi kepada Bujang Buta. Sambil terheran-heran, Bujang Buta kemudian pulang ke rumah nenek itu. Dalam perjalanan, Bujang Buta terus bertanya-tanya dalam hati, “Apa maksud tuan Putri merobek lengan bajuku?”
Keesokan harinya, kabar kematian gerombolan gajah itu tersebar ke seluruh pelosok negeri. Setelah mendapat cerita dari putrinya, Raja Negeri mengundang seluruh rakyatnya ke istana. Tak berapa lama, seluruh rakyat sudah berkumpul di depan istana. Tampak pula Bujang Buta hadir di tengah-tengah undangan dengan bajunya yang berlengan satu.
Seluruh undangan harus memperlihatkan semua pakaian yang mereka miliki. Satu per satu pakaian-pakaian tersebut disesuaikan dan robekan baju bagian lengan yang ada di tangan Putri Bungsu. Sudah hampir semua pakaian diperiksa, namun tak satu pun yang sesuai. Sampai pada akhirnya ditemukan pakaian Bujang Buta-lah yang sesuai dengan robekan lengan baju itu.
 “Hai, Orang Muda! Karena engkau telah menyelamatkan putriku, maka engkau berhak menikah dengan putriku. Tahta kerajaan ini aku serahkan pula kepadamu untuk memimpin negeri ini,” kata sang Raja. Bujang Buta pun menerima hadiah pemberian Raja itu.
Usai pesta pernikahan, Bujang Buta menghadap untuk memohon sesuatu kepada Raja Negeri. “Ampun, Baginda! Perkenankanlah hamba untuk mencari emak hamba dan membawa mereka serta hidup di negeri ini,” pinta Bujang Buta kepada Raja. “Engkau anak yang berbakti. Baiklah! Pergilah mencari emakmu itu. Pengawalku akan mengantarmu ke mana engkau pergi,” kata sang Raja mengizinkan. “Beribu terima kasih hamba haturkan di hadapan Baginda,” kata Bujang Buta sambil memberi hormat.
Keesokan harinya, tampak rombongan Bujang Buta dan Putri Bungsu meninggalkan istana menuju kampung Bujang Buta. Setelah berminggu-minggu berjalan, sampailah mereka di sebuah gubuk reyot. Di depan gubuk itu, Bujang Buta memanggil emaknya. “Emaaak…! Bujang Buta Pulang, Mak!” teriak Bujang Buta. “Masuklah, Anakku! Pintunya tidak dikunci,” jawab emak Bujang Buta. Mendengar suara orang tua itu, Bujang Buta masuk dan memeluk emaknya yang sedang terbaring lemas di atas pembaringan karena sakit.
bujang buta“Ini Bujang Buta, Mak!” kata Bujang Buta meyakinkan emaknya. “Benarkah itu, mengapa engkau bisa melihat, bukankah anakku buta?” tanya emaknya tak percaya. Lalu Bujang Buta menceritakan perjalanannya dan kejadian yang menyebabkan matanya bisa melihat.  
Setelah mendengar cerita Bujang Buta, tahulah emaknya siapa sebenarnya yang berniat jahat kepada anak bungsunya itu. Namun karena kemuliaan hati Bujang Buta, maka dimaafkannya kesalahan kedua abangnya itu.
Sejak saat itu, Bujang Buta membawa serta emak dan kedua abangnya untuk hidup bersama di negeri yang dipimpinnya. Semakin lengkaplah kebahagian Bujang Buta, ia bisa hidup tentram bersama Putri Bungsu dan seluruh keluarganya, termasuk Emak Bunga. Kebahagiaan yang dirasakan Bujang Buta itu berkat kerendahan hatinya, suka menolong dan ketaatannya kepada orang tua.
Kamus kecil:
Beruk               : sejenis kera
Terap                : tali atau pengikat
Keris                 : pisau panjang berlekuk
Penukul            : alat penukul
* * *
Cerita di atas merupakan cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral. Adapun nilai moral tersebut di antaranya, suka menolong, pemaaf, dan taat kepada orang tua. Kesemua sifat tersebut tercermin pada sifat dan perilaku Bujang Buta. Sifat penolongnya tampak ketika ia membantu nenek Bunga merangkai bunga dan ketika ia menyelamatkan Putri Bungsu dari tawanan Raja Gajah. Sifat pemaafnya tampak ketika ia rela memaafkan kedua abangnya yang telah berniat untuk mencelakakan dirinya di tengah hutan belantara. Sementara sifat berbakti kepada orang tua tampak ketika ia selalu mengingat emaknya meskipun ia sudah menjadi Raja.   
Ketiga sifat tersebut di atas sangat diutamakan dalam kehidupan orang Melayu dan patut untuk dijadikan sebagai suri teladan. Bagi mereka, menolong sesama umat sudah menjadi kewajiban. Mereka menolong dengan kesadaran bahwa orang lain adalah saudara, sahabat, atau kerabatnya. Adat bersaudara, adat bersahabat, atau adat berkerabat mewajibkan orang Melayu untuk berbuat kebajikan secara ikhlas dan mengorbankan apa saja secara suka rela. Sikap ini tercermin dalam untaian ungkapan sebagai berikut:
apa tanda Melayu sejati,
menolong orang dengan berputih hati
membantu dengan merendah diri
Demikian pula sifat pemaaf, amat dimuliakan dalam kehidupan orang Melayu. Orang tua-tua mengatakan, bahwa sifat ini mencerminkan kesetiakawanan sosial yang tinggi, menggambarkan rendah hati, ikhlas, tidak pendendam, bertenggang rasa, dan berbudi luhur. Ungkapan adat mengatakan, “siapa pemurah hidup bertuah,” dan “siapa pemaaf beroleh berkah.”
Sifat taat kepada orang tua juga sangat diutamakan dalam kehidupan orang Melayu. Orang tua-tua mengatakan, “siapa taat ke orang tuanya, di dunia selamat di akhirat pun mulia.” Di dalam Tunjuk Ajar Melayu juga banyak disebutkan ungkapan-ungkapan yang berkaitan dengan keutamaan berbakti kepada orang tua, di antaranya seperti berikut:
apa tanda Melayu jati,
kepada ibu bapa ia berbakti
apa tanda Melayu jati,
mentaati ibu bapa sepenuh hati
(SM/sas/38/10-07)
Sumber :
  • Isi cerita diringkas dari Bujang Buta. Yogyakarta: AdiCita Karya Nusa.
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
  • Anonim. “Pengaruh nama ke atas Pribadi Anak,”  (http://www.salamcyber.com/blog/view/4/Pengaruh_nama_ke_atas_peribadi_anak_/, diakses tanggal 29 Oktober 2007)
  • Anonim. “Arti Sebuah Nama,” (http://suryaningsih.wordpress.com/2007/02/27/arti-sebuah-nama/, diakses tanggal 29 Oktober 2007)
  • http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/44-Bujang-Buta
Read More..

Cerita Rakyat Riau - Si Bujang : Asal Mula Burung Punai

Ada beberapa versi mengenai cerita asal-mula Burung Punai. Setiap versi memiliki alur cerita yang berbeda-beda. Versi cerita rakyat tentang asal-mula Burung Punai di Kalimantan Selatan berbeda dengan cerita rakyat di Pelalawan, Riau. Cerita rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat di Kalimantan Selatan – seperti tergambar pada cerita yang lalu dalam portal ini - mengisahkan tentang seorang pemuda yang bernama Datu Pulut, menikah dengan seorang bidadari dari Kahyangan. Namun, karena si Pemuda melanggar larangan yang pernah mereka sepakati bersama sebelum menikah, sang Bidadari pun berubah menjadi Burung Punai.
Sementara cerita rakyat tentang asal-mula Burung Punai yang berkembang di kalangan masyarakat Pelalawan, Riau, Indonesia, memiliki alur cerita yang berbeda. Dalam cerita tersebut dikisahkan seorang anak laki-laki yang bernama si Bujang, yang durhaka terhadap kedua orang tuanya. Oleh karena kedurhakannya tersebut, Bujang dikutuk menjadi seekor Burung Punai. Apa yang menyebabkan si Bujang durhaka terhadap kedua orang tuanya? Bagaimana ceritanya hingga ia berubah menjadi seekor Burung Punai? Ingin tahu jawabannya, ikuti kisahnya dalam cerita Si Bujang: Asal Mula Burung Punai berikut ini.
* * *
Alkisah, pada zaman dahulu kala, di daerah Pelalawan, Riau, hiduplah sepasang suami istri dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Bujang. Hidup mereka sangat miskin. Meskipun hidup miskin, keduanya sangat sayang terhadap anak semata wayangnya. Mereka berharap dan selalu berdoa kepada Tuhan agar anak tunggalnya itu kelak menjadi anak yang shaleh, berbudi luhur, berilmu pengetahuan dan berguna bagi masyarakat.
Untuk mencapai tujuan yang mulia itu, orang tuanya telah bertekad bekerja keras mencari rezeki yang halal sebagai modal untuk mendidik si Bujang. Setiap hari sang Ayah pergi ke ladang dan mencari ikan di sungai. Hasilnya ia jual ke desa-desa tetangga. Meskipun harus berjalan berhari-hari dengan membawa beban berat, sang Ayah tidak pernah mengeluh atau merasa lelah demi kebahagiaan anaknya. Uang hasil penjualannya tersebut, ia tabung sedikit demi sedikit. Ia sendiri hidup sangat hemat. Makan dan berpakaian seperlunya saja. Ia selalu berdoa kepada Tuhan agar senantiasa diberikan kesehatan untuk bisa mendapatkan lebih banyak rezeki demi masa depan Bujang.
Hari berganti hari. Minggu berganti Minggu. Bulan berganti Bulan. Si Bujang tumbuh menjadi anak yang sehat, lincah dan cerdas. Kedua orang tuanya amat bangga dan bahagia melihat anak tumpuan harapan mereka itu.
Setelah cukup besar, Bujang pun diserahkan ke sebuah surau di kampung itu untuk belajar mengaji. Sejak itu ia sangat rajin pergi mengaji. Setiap hari ia pergi ke surau bersama teman-temannya. Jika kampungnya dilanda banjir, Bujang diantar oleh ayahnya dengan sebuah perahu kecil. Waktu pulang ia dijemput oleh emaknya.
Ada suatu kebiasaan di Pelalawan, apabila air surut dan tanah sudah kering, semua anak-anak bermain gasing. Sebenarnya, banyak orang tua yang jengkel jika musim bergasing itu tiba. Mereka jengkel melihat anak-anak mereka yang asyik bermain gasing yang lupa segalanya. Bahkan, anak-anak mereka terkadang lupa pulang untuk makan siang.
Suatu waktu, musim bergasing itu tiba. Bujang dan teman-temannya asyik bermain gasing dari pagi hingga petang hari. Orang tuanya mulai gelisah. Sudah beberapa hari si Bujang tidak pergi mengaji. Guru mengajinya sudah berkali-kali ke rumah orang tuanya menanyakan keadaannya. Hati kedua orang tuanya semakin kesal melihat perangai anak tunggal yang diharapkannya itu.
Suatu hari, di saat hari sudah petang, si Bujang baru pulang dari bermain gasing. Kedua orang tuanya sudah menunggunya di depan pintu. Melihat si Bujang datang, emaknya menyambutnya dengan pertanyaan-pertanyaan, “Jang, sudah berapa lama kamu tidak pergi mengaji ke surau? Kamu selalu asyik bermain gasing sehingga lupa segala-galanya. Apa kamu tidak jemu-jemu bermain gasing, Jang? Kamu mau emak memberimu makan gasing?” Mendengar omelan emaknya, si Bujang hanya diam dan menunduk.
Usai ibunya mengomelin si Bujang, kini giliran ayahnya. “Jang, ayah tengok kamu asyik bermain gasing saja. Sampai-sampai kamu lupa makan-minum, apalagi mengaji. Sejak bermain gasing, kamu sudah tidak pernah lagi membantu emakmu. Apa kamu bisa kenyang makan gasing?” ujar sang ayah.
Si Bujang tidak bisa berkata apa-apa. Ia tidak berani membantah kata-kata ayahnya, karena ia memang merasa bersalah. Namun, omelan kedua orang tuanya itu tidak membekas dalam hatinya. Semua kata-kata orang tuanya hanya masuk melalui telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Ketika ayahnya pergi ke ladang, ia pergi lagi bermain gasing. Begitulah setiap hari yang dilakukannya. Pendeknya, Bujang sudah lupa segalanya. Orang Pelalawan mengatakan, “kalau anak sudah kena hantu gasing, ia tidak dapat bekerja apa pun.”
Sudah beberapa hari si Bujang tidak pulang. Ayahnya sudah tidak mau lagi mencarinya. Ia sudah tidak perduli lagi dengan kelakuan anaknya. Pada suatu malam, sang Ayah berkata kepada istrinya, “Barangkali inilah resikonya terlalu memanjakan anak. Lihatlah si Bujang anak kita, semakin dimanja semakin menjadi-jadi. Oleh karena itu, mulai sekarang kita biarkan saja, tidak usah kita hiraukan.” Mendengar ujaran suaminya, sang Istri pun mengangguk-angguk. Ia merasa bersalah, karena terlalu memanjakan si Bujang.
Demikianlah, semakin hari si Bujang semakin nakal. Ia sudah lupa segalanya. Ia semakin jarang pulang ke rumah dan tidak pernah lagi mengaji ke surau. Hati orang tuanya semakin sedih. Anak semata wayang, tumpuan harapan mereka, sudah tidak dapat diharapkan lagi. Sirnalah semua harapan kedua orang tuanya. Mereka benar-benar kecewa terhadap perilaku si Bujang. Semakin hari, hati mereka pun semakin kesal dan jengkel. Mereka tidak pernah lagi memasak nasi untuk si Bujang sebelum mereka ke ladang.
Pada suatu hari sebelum pergi ke ladang, ibunya memasak gasing, dan tali gasingnya ia gulai untuk si Bujang. Melihat kedua orang tuanya sudah berangkat ke ladang, si Bujang pulang ke rumahnya. Oleh karena sudah kelaparan, ia segera membuka periuk, dilihatnya sebuah gasing. Lalu ia membuka belanga, dilihatnya gulai tali gasing. Oleh karena merasa kecewa, menangislah si Bujang sambil bernyanyi:
Sing… Tali gasing
alit gasing dan buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya
makan buah kayu ara.
Tumbuh bulu sehelai, lalu ia menyanyi lagi:
Sing… Tali gasing
alit gasing dan buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya
makan buah kayu ara
.
Tumbuh bulu sehelai lagi, ia pun terus bernyanyi:
Sing… Tali gasing
alit gasing dan buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya
makan buah kayu ara.
Demikian si Bujang terus bernyanyi, satu demi satu bulu tumbuh di badannya. Oleh karena terus bernyanyi, lama-kelamaan ratalah seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu. Maka berubahlah si Bujang menjadi seekor Burung Punai. Ia pun terbang ke arah jendela, lalu ia terbang ke bumbung atap, kemudian ia terbang tinggi ke udara. Dari udara tampaklah olehnya ladang orang tuanya. Kemudian ia terbang ke arah ladang itu dan hinggap di atas sebuah pohon kayu ara yang tinggi. Dari atas pohon itu terlihat ayah dan ibunya sedang asyik menyiangi rumput. Ia pun bernyanyi:
Sing… Tali gasing
alit gasing dan buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya
makan buah kayu ara.
Mendengar nyanyian Burung Punai pandai berbicara itu, ibu Bujang berkata kepada suaminya, “Bang, coba dengarkan suara burung yang bernyanyi di atas pohon itu! Sepertinya suara anak kita si Bujang.” Ayah Bujang langsung berdiri dan menghentikan kegiatannya menyiangi rumput. Dipasangnya telinganya baik-baik untuk memastikan jika suara burung itu adalah suara anaknya.
Sing… Tali gasing
alit gasing dan buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya
makan buah kayu ara.
Setelah mendengarkan suara itu dengan jelas, ayah Bujang pun yakin bahwa itu adalah suara Bujang. “Benar, Adikku! Itu suara anak kita,” kata sang Ayah dengan yakin.
Maka berteriaklah emaknya memanggil si Bujang. “Nak, kemarilah! Ini nasi… !” Dari atas pohon kayu ara itu, burung punai itu menjawab, “Tidak, Emak…! Saya sudah menjadi Burung Punai. Saya makan buah kayu ara.” Setelah berkata begitu, burung itu pun mematuk dan memakan buah ara dari satu dahan ke dahan yang lain. Sang Ayah sangat kasihan melihat nasib anaknya itu. Ia pun mengambil kapak dan menebang pohon tempat burung itu hinggap. Ketika pohon itu tumbang, Burung Punai itu pun pindah ke pohon yang lain. Kemudian ia bernyanyi lagi.
Sing… Tali gasing
alit gasing dan buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai-punai jugalah saya hendaknya
makan buah kayu ara.
“Kemarilah, anakku! Ini emak bawakan nasi untukmu!” bujuk emaknya agar si Bujang yang telah menjadi Burung Punai itu mau mendekat. “Tidak, Emak! Saya sudah menjadi burung. Saya makan buah kayu ara,” jawab Burung Punai itu menolak ajakan emaknya.
Melihat Burung Punai itu tidak mau mendekat, Ayah Bujang menebang pohon ara tempat burung itu hinggap. Ketika pohon itu tumbang, Burung Punai itu terbang lagi ke pohon ara lainnya. Kemudian bernyanyi lagi dengan nada dan lagu yang sama. Begitulah seterusnya, setiap ayahnya menebang pohon tempat ia hinggap, Burung Punai itu pindah ke pohon yang lainnya dan kemudian benyanyi.
Tak terasa, semakin jauh kedua orang tuanya meninggalkan ladangnya. Sampai pada suatu waktu perbekalan mereka benar-benar sudah habis. Sementara jalan untuk pulang, mereka sudah tidak tahu lagi. Oleh karena sudah berhari-hari tidak makan, kedua orang tua Bujang akhirnya meninggal di dalam hutan. Sementara si Bujang yang durhaka itu tetap menjadi Burung Punai selama-lamanya.
* * *
Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita teladan yang mengandung nilai-nilai moral yang patut dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua nilai moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu pentingnya mendidik anak dan akibat menjadi anak durhaka. Sikap yang mementingkan pendidikan bagi anak tercermin pada sikap kedua orang tua si Bujang yang senantiasa bekerja keras mencari nafkah tanpa mengenal lelah demi masa depan anaknya. Sementara sifat durhaka tercermin pada sikap si Bujang yang tidak mau mendengarkan kata-kata orang tuanya. Akibatnya, ia menjelma menjadi seekor Burung Punai.  
Bagi orang Melayu, mendidik dan membela anak amatlah diutamakan. Tujuannya adalah agar anak-anak mereka kelak “menjadi orang”, yakni menjadi manusia sempurna lahiriah dan batiniah. Para orang tua berharap agar anak mereka menjadi “anak bertuah” yang dapat membawa kebahagiaan, kelapangan, kerukunan, dan kesejahteraan baik bagi keluarga maupun bagi masyarakatnya. Orang tua-tua Melayu mengatakan, “kalau anak menjadi orang, kecil menjadi tuah rumah, besar menjadi tuah negeri”. Ungkapan lain mengatakan, “tuahnya selilit kepala mujurnya selilit pinggang, ke tengah menjadi manusia ke tepi menjadi orang.”    
Anak yang telah “menjadi manusia” atau “menjadi orang” disebut pula “anak bertuah”, karena mereka dapat mendatangkan kebahagiaan, kebanggaan, dan keberuntungan bagi keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya. Sebaliknya, anak yang durhaka, sesat, dan jahat, selain mencoreng muka orang tua, juga mengaibmalukan kerabat dan merusak masyarakatnya. Terkadang, kedurhakaan sang anak dianggap kesalahan orang tua yang tidak mampu mendidik, mengajar, dan membela anaknya secara baik dan benar. Namun, terkadang pula, kedurhakaan itu datang dari si anak itu sendiri. Meskipun orang tuanya sudah bersusah payah mendidik dan mengajarnya, si anak tetap saja keras kepala dan tidak mau mendengar nasehat orang tuannya. Hal inilah yang terjadi pada diri si Bujang dalam cerita di atas. Meskipun ayahnya sudah bersusah payah mencari nafkah untuk modal pendidikannya, si Bujang tetap saja durhaka terhadap kedua orang tuanya.
Oleh karena pentingnya mendidik dan membela anak, banyak petuah amanah yang berkaitan dengan anak, yang diwariskan dalam budaya Melayu. Tenas Effendy dalam bukunya “Tunjuk Ajar Melayu” banyak menyebutkan tentang petuah amanah mendidik dan membela anak, antara sebagai berikut:
anak dididik pada yang baik
diajar pada yang benar
dibela pada yang mulia
dituntun pada yang santun
ditunjuk pada yang elok
dipelihara pada yang sempurna
dijaga pada yang berguna
anak dididik dengan kasih,
kasih jangan berlebih-lebihan
kasih berlebih membutakan
anak dididik dengan keras,
tetapi jangan terlalu keras
terlalu keras membawa naas
(SM/sas/36/10-07)
Sumber :
  • Isi cerita diringkas dari “Cerita Rakyat Daerah Riau”, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayan Daerah. 1981. Jakarta: Depdibud Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.
  • Anonim. “Kabupaten Pelalawan” (http://id.wikipedia.org/wiki/Pelalawan, diakses tanggal 23 Oktober 2007)
  • http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/41-Si-Bujang-Asal-Mula-Burung-Punai
Read More..

Popular Post