Nyanyian Karang Pantai Selatan: Kisah Putri Kandita

Kisah Putri Kandita
Kisah Putri Kandita

Di bawah langit Pakuan Pajajaran, bertahtalah seorang raja legendaris bernama Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja). Kepemimpinannya yang adil membawa ketenteraman bagi rakyat, sementara istananya dihiasi oleh kehadiran seorang permaisuri berwajah rupawan serta jajaran selir yang memikat hati. Dari ikatan suci sang Prabu dan permaisuri, lahirlah sekar kedaton yang diberi nama Putri Kandita.

Waktu bergulir, Kandita tumbuh menjadi gadis yang mewarisi keindahan paras melampaui ibundanya. Tak sekadar rupawan, jiwanya juga ditempa oleh kebijakan sang ayah. Menyaksikan bakat kepemimpinan yang terpancar dari diri Kandita, Prabu Siliwangi membulatkan tekad untuk menjadikannya pewaris takhta Pajajaran kelak.
Namun, keputusan tersebut memicu riak kecemburuan. Bagai api dalam sekam, rasa iri mulai membakar hati para selir dan putra-putri istana lainnya. Mereka tak sudi melihat Kandita melangkah menuju singgasana.
Suatu malam, dalam remang bayang-bayang istana, sebuah persekongkolan jahat dirancang di dalam ruang rahasia.
"Kita harus menyingkirkan Kandita dan ibunya secara halus," bisik salah satu selir dengan nada penuh kebencian.
"Benar, jika Prabu sampai mencium rencana ini, nyawa kita yang akan menjadi taruhannya," timpal selir yang lain.
Keheningan sempat mencekam ruangan, sebelum akhirnya sebuah ide culas tercetus. Melalui perantara seorang dayang tepercaya, mereka menyewa seorang dukun ilmu hitam yang tinggal di pelosok desa yang terpencil. Gelimang kepingan emas menyilaukan mata sang dukun, membuatnya tanpa ragu menebar kutukan demi memenuhi hasrat jahat para selir.
Esoknya, petaka melanda. Kulit mulus Putri Kandita dan permaisuri mendadak berubah mengerikan. Luka borok kusta bernanah yang mengeluarkan bau busuk menyengat menggerogoti tubuh mereka. Prabu Siliwangi yang terkejut segera mengerahkan tabib terbaik dari seantero negeri. Namun, mantra hitam itu terlalu pekat; tak satu pun obat mampu meredamnya.
Tubuh sang permaisuri kian menyusut. Digerogoti penyakit dan duka, ia akhirnya mengembuskan napas terakhir. Kepergian sang belahan jiwa meremukkan hati Prabu Siliwangi. Ia melewatkan hari-hari dalam kesendirian dan tatapan kosong. Satu-satunya alasan baginya untuk bertahan adalah Kandita, yang kondisinya justru kian mengenaskan.
Melihat momen kelengahan raja, para selir kembali melancarkan aksi busuk mereka dengan menghasut sang Prabu.
"Ampun Baginda, penyakit Putri Kandita bukan lagi sekadar kutukan, melainkan kutukan yang membawa sial bagi seluruh negeri. Jika ia tetap di sini, Pajajaran akan runtuh terkena tulah," bisik mereka berulang kali.
Didorong rasa cemas dan desakan tiada henti, Prabu Siliwangi mengambil keputusan paling getir dalam hidupnya: mengusir putri kesayangannya sendiri.
Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Kandita melangkah keluar melalui gerbang belakang istana. Sebatang kara, ia berjalan menembus hutan, mendaki bukit, menuruti ke mana kaki membawanya tanpa arah. Berhari-hari didera dahaga dan lara, langkahnya terhenti saat mencium aroma garam. Di hadapannya, terbentang luas Samudera Hindia yang ombaknya bergemuruh dahsyat.
"Tubuhku teramat lelah... biarlah aku melepas penat di sini," lirih Kandita sebelum tak sadarkan diri di atas hamparan batu karang.
Dalam tidurnya yang lelap, sebuah suara mistis menggema, menembus kesadarannya.
“Wahai Putri Pajajaran, bangkitlah! Basuhlah dirimu dan menceburlah ke dalam gulungan ombak samudera ini. Airnya akan menyucikan ragamu.”
Kandita tersentak bangun, mengusap matanya demi memastikan ia tidak sedang bermimpi. Alam sekitar tampak sepi, hanya ada deru angin laut. Yakin bahwa itu adalah sebuah wangsit gaib, Kandita memantapkan hati dan melompat ke dalam pelukan ombak laut selatan.
Keajaiban magis terjadi. Begitu air garam menyentuh kulitnya, borok dan nanah seketika luruh, berganti dengan kulit yang jauh lebih bersih, halus, dan memancarkan aura kecantikan yang magis. Tak hanya pulih, laut selatan juga menganugerahinya kesaktian mandraguna yang tiada tanding.
Meski raganya telah kembali suci, luka di hatinya membuat Kandita enggan menginjakkan kaki lagi di istana Pajajaran. Ia memilih menetap di pesisir selatan, mendirikan takhtanya sendiri di atas karang-karang tajam.
Kecantikan dan kesaktiannya yang melegenda segera menyebar ke seluruh penjuru Pulau Jawa. Para pangeran gagah berani berdatangan untuk meminang sang putri. Kandita menyambut mereka dengan satu syarat mutlak: siapa pun yang ingin mempersuntingnya wajib mengalahkan kesaktiannya di atas gelombang laut selatan. Jika gagal, mereka harus tunduk menjadi abdinya.
Satu per satu pangeran berjatuhan, tergulung oleh kesaktian Kandita dan ganasnya ombak. Tak ada satu pun lelaki yang mampu menandingi kekuatannya. Mereka yang kalah akhirnya mengikrarkan sumpah setia untuk menjadi pasukannya. Sejak saat itulah, lembaran sejarah mencatat Putri Kandita bukan lagi sebagai putri terbuang dari Pajajaran, melainkan sebagai sang Ratu legendaris yang menguasai Laut Selatan Jawa.

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungan Anda Silahkan Tinggalkan Komentar

Previous Post Next Post